Dani Olmo: Juara Piala Dunia Mengubah Hidup Saya

Dani Olmo menganggukkan kepala ke arah lengan kanannya, lalu menunjukkan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: bulu kuduk yang berdiri. Gelandang timnas Spanyol itu sedang berada di sebuah ruang belakang di pusat latihan Joan Gamper milik Barcelona, berusaha mengingat kembali kapan persisnya ia sadar telah resmi menjadi juara dunia. Baginya, momen itu bukan datang saat peluit panjang berbunyi, melainkan ketika ia memeluk ibu Ferran Torres dan keduanya sama-sama larut dalam tangis.

Spanyol menuntaskan Piala Dunia pada 19 Juli di New Jersey setelah mengalahkan Argentina, dan sejak saat itu segalanya tidak lagi sama. Olmo, yang kini berusia 28 tahun, mengaku belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi. Dua puluh tiga hari setelah laga final, ia sudah kembali berada di tempat yang sama, menuntaskan sesi latihan dan bersiap menjalani musim Eropa berikutnya.

Dani Olmo dan Momen Merinding di New Jersey

Olmo mengenang bagaimana perasaannya berubah perlahan, tidak sekaligus. Pada menit-menit akhir pertandingan, ia mengaku sama sekali belum berani membayangkan Spanyol akan menutup turnamen sebagai juara. Namun begitu wasit meniup peluit, pertanyaan itu mulai muncul di kepalanya, dan rasa yakin tumbuh kian kuat ketika ia mengangkat trofi di hadapan para pendukung.

Puncaknya justru terjadi di luar lapangan. Melihat reaksi adiknya, pasangannya, dan ayahnya membuat Olmo, yang mengaku bukan tipe orang yang mudah menangis, tak lagi mampu menahan emosi. Ada satu gambaran yang paling membekas: pelukan dengan ibu Ferran Torres disertai tangis keduanya, sembari menyebut bahwa apa yang baru saja dilakukan tim ini adalah sesuatu yang bersejarah.

Di mata Olmo, gelar itu bukan sekadar tambahan koleksi. Ia menyebut kemenangan tersebut seperti memasuki dimensi lain, sebuah kelompok yang sangat eksklusif dan terbatas. Ketika masih kecil, ia menempatkan generasi 2010 di posisi tertinggi lewat nama-nama seperti Andrés Iniesta, Xavi, Sergio Busquets, Xabi Alonso, dan David Villa. Kini, ia merasakan sensasi berbeda karena dirinya sendiri sudah berdiri di barisan yang sama.

Kembali ke Barcelona dan Basis Timnas yang Saling Menguatkan

Setelah libur singkat, Olmo kembali ke rutinitas bersama klubnya. Pelatih Barcelona, Hansi Flick, menyambutnya dengan satu kalimat sederhana bahwa dirinya adalah juara dunia. Olmo menjawab singkat bahwa ia tahu, lalu menertawakan bagian berikutnya dari percakapan itu, yaitu tuntutan untuk melakukan hal serupa bersama Barcelona.

Delapan dari 26 pemain yang dibawa Spanyol ke Piala Dunia adalah penggawa Barcelona, meski Ferran Torres kini telah pindah ke Paris Saint-Germain dan Rodri datang dari Manchester City. Menurut Olmo, apa yang diraih para pemain bersama negaranya bisa menular ke level klub, begitu pula sebaliknya. Kesuksesan bersama Barcelona, katanya, turut memberi fondasi bagi keberhasilan tim nasional pada musim yang sama.

Ia menilai Piala Dunia menjadi penutup yang sempurna bagi tahun yang sudah berjalan sangat baik, setelah gelar liga dan Piala Super. Kehadiran banyak pemain Barcelona yang kompetitif, ambisius, tahu cara menang, sekaligus merupakan pribadi yang baik, sangat membantu tim nasional. Olmo menegaskan bahwa siapa pun yang bermain banyak atau sedikit tetap merupakan bagian dari satu tim yang solid.

Pelajaran Liga Champions dan Mimpi yang Tertunda Sebelas Tahun

Ambisi berikutnya sudah jelas: Liga Champions, trofi yang sudah sebelas tahun menghindar dari Barcelona. Tidak ada satu pun pemain yang tersisa dari skuad saat mereka terakhir mengangkat trofi tersebut pada Juni 2015, ketika Olmo baru saja menginjak usia 17 tahun. Saat itu ia sudah meninggalkan akademi yang pertama kali ia masuki pada usia sembilan tahun, dan setahun sebelumnya memutuskan berangkat sendiri untuk meniti karier.

Langkah pertamanya dimulai bersama tim utama Dinamo Zagreb dengan lima penampilan sebagai pengganti, sebuah awal yang berani dan penuh tekad. Perjalanan itu akhirnya membawanya pulang lewat RB Leipzig pada 2024. Pada musim pertamanya kembali, ia membantu Barcelona meraih treble domestik, dan musim berikutnya gelar juara liga kembali mereka raih.

Di Eropa, jalan mereka masih terhenti. Barcelona tersingkir oleh Inter pada semifinal dan oleh Atlético Madrid pada perempat final. Kampanye baru akan dimulai melawan Feyenoord di Camp Nou, dengan harapan berakhir di Metropolitano, Madrid, pada 5 Juni. Olmo menyebut dua pengalaman pahit itu sebagai bekal berharga bagi tim yang masih muda, karena setiap detail kecil selalu menentukan di kompetisi ini.

Kebetulan pula, Barcelona saat ini memang identik dengan pemain muda. Ketika menghadapi Athletic Bilbao bulan lalu, mereka menurunkan starting XI termuda di Camp Nou dengan rata-rata usia 23,18 tahun. Olmo tetap menyebut dirinya pemain muda, meski mengakui kini merasa seperti veteran. Ia memuji La Masia yang menurutnya lebih hidup dari sebelumnya, meski mengingatkan bahwa menemukan ruang di tim utama tetap tidak mudah, seperti yang dialami Thiago Alcântara yang harus menempuh jalan lewat Bayern demi bermain di level tertinggi.

Ia menyebut Barcelona punya akademi terbaik di dunia, dengan nama-nama seperti Marc Bernal, Lamine Yamal, dan Xavi Espart yang mulai mencuat, sementara Pedri sudah bertahan di level teratas selama enam hingga tujuh tahun meski usianya masih muda. Pengalaman itu diyakini akan membantu skuadnya menutup kekurangan yang membuat mereka gagal dalam dua musim terakhir.

Flick dan De la Fuente: Dua Pelatih, Satu Benang Merah

Menurut Olmo, ada persamaan mendasar antara cara kerja Flick dan pelatih timnas Spanyol, Luis de la Fuente. Keduanya dekat dengan pemain, pintu ruangannya selalu terbuka bila ada yang dibutuhkan, dan keduanya sama-sama mampu memotivasi. Bedanya, De la Fuente disebut sedikit lebih menonjol dalam hal memberi dorongan semangat, sementara Flick kadang tampak lebih serius meski sesekali melontarkan lelucon.

Soal ide permainan, keduanya juga sejalan: menyerang dan menguasai bola. Perbedaan utamanya terletak pada cara bertahan. Jika Spanyol tidak menarik garis pertahanan setinggi Barcelona, itu karena mereka lebih bisa bertahan di blok menengah atau blok menengah bawah ketika harus menggigit gigi. Barcelona sendiri selalu berusaha melangkah maju dan mencari transisi cepat, sebuah pendekatan yang menurut Olmo kerap disederhanakan secara berlebihan oleh para pengkritik.

Olmo menekankan bahwa kata risiko sebaiknya diberi tanda kutip, karena pendekatan itu terbukti mendatangkan gelar dan menunjukkan bahwa Barcelona mampu bersaing di Liga Champions. Flick, katanya, terus memberi kepercayaan penuh kepada para pemain untuk mempertahankan ide tersebut. Pelajaran yang diambil dari kekalahan atas Inter dan Atlético adalah soal ketenangan dan kolektivitas ketika satu pemain terlambat menutup ruang.

Rodri, Kepergian Lewandowski, dan Solusi di Lini Depan

Kehadiran Rodri disebut Olmo sebagai sosok yang paling mirip dengan Busquets dalam hal mengendalikan permainan. Pemain itu dinilai sangat cocok dengan gaya, sistem, dan ide bermain Barcelona yang mirip dengan tim nasional. Kehadirannya memberi keseimbangan sekaligus membuka ruang kebebasan lebih besar bagi Olmo untuk membaca di mana celah bisa dimanfaatkan.

Ketika rumor kepindahan itu muncul saat Piala Dunia berlangsung, Olmo mengaku sempat mengirim pesan kecil kepada Rodri, meski ia menegaskan bahwa pembicaraan soal transfer bukanlah hal yang ingin dilakukan selama turnamen. Soal kepergian Robert Lewandowski dan Ferran Torres serta kegagalan mendatangkan Julián Álvarez, Olmo menilai itu bukan persoalan yang tidak bisa diatasi. Ia mengingatkan bahwa tidak ada pemain seperti Lewandowski sepanjang sejarah, tetapi Barcelona kini memainkan Raphinha di posisi nomor sembilan, sementara Gabriel Jesus sudah datang dan Hamza Abdelkarim tampil sangat baik.

Selain itu, pelatih punya opsi tambahan dengan menempatkan Olmo atau Fermin López di posisi penyerang tengah, sebuah posisi yang ia rasa nyaman untuk dijalani. Kedatangan Rodri, Gabriel Jesus, Karim Adeyemi, dan Anthony Gordon dinilai memberi banyak hal, terutama kecepatan Adeyemi dan Gordon yang mendukung ide menyerang. Namun, hal yang paling dihargai pelatih justru aspek tanpa bola: menekan bersama dan bertahan sebagai satu kesatuan.

Tradisi Sepeda dan Satu Trofi yang Masih Tersisa

Ada tradisi unik yang lahir di skuad Barcelona. Ketika mereka menjuarai liga pada 2025, empat pemain merayakannya dengan mengendarai sepeda kota menyusuri Diagonal. Semuanya berawal dari kunjungan ke Ferran Torres yang sedang dirawat di rumah sakit akibat radang usus buntu, dan meski Olmo menyebut sepeda hanya cara termudah untuk sampai ke sana, kebiasaan itu pun lahir.

Di New York, mereka kembali mengayuh sepeda dengan suara sirene mengiringi langkah Olmo, Ferran Torres, dan Eric García di hari-hari terakhir menjelang pertandingan terpenting dalam hidup mereka. Olmo mengakui mereka baru akan mengunggah fotonya setelah laga selesai, dan menegaskan bahwa mereka tetap berhati-hati sehingga semuanya berjalan aman.

Tradisi itu pun terpelihara, dan satu trofi lagi berhasil diangkat. Yang tersisa tinggal satu: Liga Champions. Perjalanan dari Barcelona ke New York kini berlanjut menuju Madrid, dan Olmo hanya tersenyum ketika membayangkan mengayuh sepeda dengan masker serta helm agar tidak dikenali.

Perjalanan Dani Olmo menunjukkan bagaimana satu gelar bisa mengubah cara seorang pemain memandang kariernya, sekaligus memberi energi baru bagi klubnya. Gelar dunia memberinya status sebagai bagian dari kelompok terpilih, tetapi tuntutan di level klub tidak berkurang sedikit pun. Justru dari sanalah ia dan Barcelona berharap bisa menutup satu lubang besar dalam sejarah mereka.

Yang tersisa kini adalah pembuktian di lapangan: menjaga ide permainan, memanfaatkan pengalaman dari dua kegagalan di Eropa, dan berusaha memastikan bahwa musim ini tidak berakhir seperti dua musim sebelumnya. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, perayaan di Madrid mungkin memerlukan satu tradisi sepeda lagi.