Arsenal kalahkan Lille dengan skor 3-0 pada laga Liga Champions di Emirates Stadium, sebuah kemenangan yang lahir dari tiga gol dalam rentang hanya tujuh menit pada babak kedua. Jurriën Timber membuka keunggulan pada menit ke-64, Eberechi Eze menambah gol kedua, dan Bukayo Saka menutup pesta gol tuan rumah. Hasil ini memperpanjang catatan sempurna Arsenal di kandang sendiri di kompetisi Eropa menjadi 12 kemenangan beruntun.
Namun malam itu bukan sekadar soal angka. Arsenal juga mengenang Ken Friar, presiden seumur hidup klub yang meninggal dunia pada usia 92 tahun dan berperan besar dalam kepindahan klub dari Highbury ke Emirates pada 2006. Para pemain mengenakan ban lengan hitam sebagai tanda penghormatan, sementara Mikel Arteta menyebut kepergian Friar sebagai hari yang sangat sedih bagi siapa pun yang mencintai sepak bola.
Tiga Gol dalam Tujuh Menit yang Menentukan
Arsenal sebenarnya harus bersabar cukup lama sebelum memecah kebuntuan. Serangan lapis kedua yang diturunkan Arteta tampak tumpul, dan Viktor Gyökeres secara khusus bekerja keras tanpa memberi dampak nyata di lini depan. Gol pembuka akhirnya datang dari sumber yang tidak terduga, yakni bek Jurriën Timber, yang menyelesaikan umpan Noni Madueke dengan sentuhan pertama brilian dan tembakan kaki kanan yang halus.
Begitu lini depan utama masuk, wajah pertandingan berubah drastis. Saka yang baru masuk dari bangku cadangan langsung memberi pengaruh dengan mengirim umpan kepada Eze, yang melepaskan tembakan kaki kiri untuk gol kedua, kemungkinan dengan sedikit bantuan defleksi. Kurang dari tiga menit berselang, Saka sendiri mencatatkan namanya di papan skor setelah berkolaborasi dengan Kai Havertz dan Martin Ødegaard.
Perubahan itu menegaskan betapa besar pengaruh bangku cadangan Arsenal dalam laga ini. Arteta menurunkan Saka, Ødegaard, dan Havertz secara bersamaan untuk memastikan kemenangan tidak lepas, dan ketiganya langsung terlibat dalam proses tiga gol tersebut. Lille, yang bertahan cukup rapi sepanjang satu jam pertama, seolah tidak menyangka apa yang menghantam mereka dalam waktu sesingkat itu.
Babak Pertama yang Melelahkan dan Peluang yang Terbuang
Arsenal memasuki laga ini tanpa Piero Hincapié dan Martín Zubimendi, yang keduanya mengalami cedera saat pendinginan setelah kemenangan atas Leeds pada Sabtu lalu. Meski begitu, Arteta tetap mampu melakukan lima perubahan di starting eleven. Noni Madueke dikembalikan ke posisi favoritnya di sayap kanan setelah tampil apik di sisi kiri melawan Leeds, dan ia kembali menjadi outlet paling berbahaya Arsenal di babak pertama.
Peluang sebenarnya tidak sepenuhnya absen. Bruno Guimarães dan kemudian Mikel Merino menyia-nyiakan kesempatan yang cukup layak, sementara Lille sempat mencetak gol lewat Ayase Ueda. Gol itu lahir setelah tembakan Nabil Bentaleb membentur Timber dan mengenai Hákon Haraldsson dalam prosesnya, namun video assistant referee memastikan penyerang asal Jepang tersebut berada dalam posisi offside tipis.
Masalah utama Arsenal di paruh pertama adalah minimnya kreativitas tanpa kehadiran Ødegaard, ditambah Gyökeres yang lebih banyak berlari tanpa menghasilkan ancaman nyata. Gyökeres bahkan tidak sempat menghindar setelah Eze memaksa kiper Berke Ozer melakukan penyelamatan serius pertamanya, dan ia langsung dinyatakan offside. Ozer kemudian harus sigap menyapu bola dari kaki penyerang Swedia itu setelah gagal menahan tembakan Guimarães tepat sebelum turun minum.
Babak kedua sempat diwarnai protes Arsenal ketika Guimarães jatuh di kotak penalti akibat tekanan Alexsandro. Wasit Felix Zwayer menolak memberikan penalti, dan gelandang Arsenal itu tampak lebih mencari kontak ketimbang benar-benar dijatuhkan. Tembakan Madueke yang melenceng jauh menjadi sinyal bagi Arteta untuk menyiapkan Ødegaard, Saka, dan Havertz dari bangku cadangan.
Arti Kemenangan Ini bagi Arsenal dan Persaingan di Eropa
Kemenangan atas Lille menegaskan Emirates sebagai benteng yang nyaris tak tersentuh di kompetisi Eropa. Dalam 12 kemenangan beruntun di kandang pada fase liga atau grup, Arsenal hanya kebobolan tiga kali, sebuah catatan yang luar biasa mengingat kualitas lawan yang mereka hadapi. Gol Saka malam itu juga tercatat sebagai gol ke-36 Arsenal di Emirates pada fase tersebut sejak klub kembali ke panggung utama Eropa di bawah Arteta pada musim 2023-24, setelah absen selama enam tahun.
Selain itu, Arsenal kini mengoleksi 14 kemenangan beruntun di fase liga kompetisi ini. Mereka hanya berjarak tiga kemenangan lagi untuk menyamai rekor Bayern Munich, pencapaian yang menempatkan mereka di antara tim-tim paling konsisten di Eropa. Catatan ini juga menjelaskan mengapa Arteta begitu enggan dengan rencana pembangunan ulang stadion, karena segala bentuk kepindahan sementara ke Wembley atau tempat lain akan mengganggu keunggulan kandang yang sudah mereka bangun.
Meski demikian, ada pula catatan yang perlu menjadi perhatian. Fakta bahwa Arsenal baru bisa menembus pertahanan Lille setelah memasukkan tiga pemain inti menunjukkan bahwa kedalaman skuad mereka belum sepenuhnya bisa diandalkan untuk membuka pertahanan rapat. Arteta mungkin akan memikirkan cara agar lini serang pelapisnya bisa tampil lebih tajam, terutama ketika rotasi menjadi keharusan di tengah jadwal padat.
Penghormatan untuk Ken Friar
Arsenal memberikan penghormatan sebelum pertandingan kepada Ken Friar, sosok yang meniti karier dari petugas box office hingga menjadi sekretaris klub, lalu menjabat sebagai direktur utama pada dekade 1980-an. Perannya sangat penting dalam proses kepindahan klub dari Highbury ke Emirates pada 2006, sebuah langkah besar yang mengubah lanskap finansial dan infrastruktur Arsenal hingga saat ini. Kabar kepergiannya pada usia 92 tahun dikonfirmasi tepat pada hari pertandingan berlangsung.
Arteta secara khusus menyoroti warisan yang ditinggalkan Friar. Menurutnya, Friar pasti merasa sangat bahagia melihat cara para pemain bermain malam itu, dan ia tahu betul betapa bangganya Friar terhadap apa yang telah dibangun klub. Arteta menegaskan bahwa warisan yang ditinggalkan Friar untuk Arsenal akan bertahan selamanya.
Kembalinya Giroud dan Konteks yang Lebih Luas
Malam itu juga menjadi momen spesial bagi Olivier Giroud, yang kembali ke London utara dan mendapat standing ovation dari pendukung Arsenal. Penyerang berusia 40 tahun itu kini memperkuat Lille, dan pelatih Davide Ancelotti memilih tidak menurunkannya sebagai starter melawan mantan klubnya. Keputusan tersebut terbilang masuk akal, mengingat Lille butuh tenaga segar untuk menahan gempuran tuan rumah sejak awal laga.
Davide Ancelotti sendiri baru ditunjuk sebagai pelatih Lille pada musim panas lalu, dan ini merupakan peran senior keduanya setelah sebelumnya bekerja di bawah ayahnya, Carlo Ancelotti, di Everton dan Real Madrid. Penunjukan itu menandai langkah penting dalam karier kepelatihannya, meski ia menghadapi ujian berat di Emirates. Lille tampil disiplin dengan bertahan dalam, tetapi kualitas individu Arsenal akhirnya membuat perbedaan.
Sebagai penutup malam yang memuaskan, penonton di Emirates juga disuguhi penampilan singkat pemain muda berbakat Max Dowman. Kombinasi antara kemenangan meyakinkan, penghormatan kepada figur penting klub, dan munculnya talenta muda menunjukkan bahwa Arsenal saat ini tidak hanya kuat di lapangan, tetapi juga sedang membangun kesinambungan untuk jangka panjang.
Secara keseluruhan, kemenangan 3-0 atas Lille menegaskan dua hal sekaligus: ketajaman Arsenal ketika para pemain inti masuk, serta catatan kandang yang nyaris sempurna di Liga Champions. Rekor 12 kemenangan beruntun dengan hanya tiga kali kebobolan adalah fondasi yang membuat mereka layak diperhitungkan sebagai salah satu kandidat kuat di kompetisi ini. Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin Bayern Munich kini mulai melihat ke belakang dengan waswas.
