Piala Dunia 2026 menjadi panggung terakhir bagi Cristiano Ronaldo bersama Timnas Portugal. Langkah mereka terhenti di babak 16 besar setelah dikalahkan Spanyol 1-0 lewat gol injury time Mikel Merino. Air mata Ronaldo pun tak terbendung, menandai berakhirnya perjalanan seorang legenda di turnamen sepak bola paling bergengsi.
Sayangnya, tak hanya kekalahan yang menjadi sorotan. Keputusan pelatih Roberto Martinez untuk terus memainkan Ronaldo sebagai starter menuai kritik tajam, terutama dari pengamat sepak bola Chris Sutton. Ia menyebut pendekatan Martinez sebagai “memalukan” dan penuh dengan “pilih kasih” terhadap bintang berusia 41 tahun itu.
Perjalanan Panjang Ronaldo di Piala Dunia
Cristiano Ronaldo adalah salah satu pesepak bola paling sukses sepanjang masa. Dengan koleksi lima Ballon d’Or, lima gelar Liga Champions, dan trofi Euro 2016, namanya sudah diukir dalam sejarah. Namun, satu gelar yang selalu menghindarinya adalah Piala Dunia.
Ronaldo tampil di enam edisi Piala Dunia—rekor yang hanya dimiliki bersama Lionel Messi. Ia juga menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di enam turnamen berbeda. Namun, capaian terbaik Portugal selama ia bermain hanyalah semifinal pada 2006. Di Piala Dunia 2026, Ronaldo hanya mampu mencetak tiga gol: dua ke gawang Uzbekistan dan satu penalti melawan Kroasia.
Statistik lain menunjukkan ketimpangan: meski melepaskan 18 tembakan (terbanyak ketiga di turnamen), ia hanya menciptakan satu peluang untuk rekan setim sepanjang lima pertandingan. Bahkan, 366 pemain lain tercatat lebih sering menyentuh bola daripada Ronaldo—meski ia bermain nyaris penuh di semua laga.
Kritik Pedas untuk Roberto Martinez
Roberto Martinez, yang sebelumnya menangani Belgia, mengambil alih Portugal pada 2023. Ia berhasil memenangkan Nations League tahun lalu, tetapi kegagalan di Piala Dunia 2026 membuatnya memutuskan mundur. “Saya datang dengan target memenangkan Piala Dunia. Karena tidak tercapai, tidak masuk akal untuk melanjutkan,” ujarnya.
Namun, pengamat sepak bola Chris Sutton tak segan melontarkan kritik. “Lihat Ronaldo di lapangan—dia mondar-mandir seperti kakek-kakek. Itulah kenapa Portugal tersingkir,” kata Sutton kepada BBC Radio 5 Live. “Apa yang dilakukan Martinez? Bagaimana bisa dia begitu memanjakan pemain bintang?”
Keputusan Starter yang Dipertanyakan
Pertanyaan besar yang muncul: apakah Ronaldo seharusnya tetap menjadi starter? Pada Piala Dunia 2022, pelatih sebelumnya Fernando Santos berani mencadangkan Ronaldo di fase gugur, dan Goncalo Ramos yang menggantikannya mencetak hat-trick. Namun di 2026, Ramos hanya menjadi penghangat bangku cadangan.
“Bagaimana mungkin Goncalo Ramos tidak dimainkan? Ini aib bagi manajer,” sambung Sutton. Portugal sendiri diperkuat banyak pemain top seperti Bruno Fernandes, Vitinha, Joao Neves, dan Nuno Mendes—sebagian besar adalah pemain PSG yang baru memenangkan dua Liga Champions. Namun, mereka hanya mampu melaju hingga 16 besar.
Perbandingan dengan Messi dan Masa Depan Ronaldo
Persaingan Ronaldo dan Messi seolah menjadi tema abadi dalam sepak bola. Messi berhasil memenangkan Piala Dunia 2022 bersama Argentina, sementara Ronaldo harus mengakhiri karier turnamennya tanpa trofi tersebut. Meski begitu, Ronaldo tetap menjadi ikon global yang jarang ada duanya.
Wayne Rooney, mantan rekan setim Ronaldo di Manchester United, berkomentar: “Dia jenius, superstar. Apa yang dia beri kepada sepak bola dan jutaan orang sangat langka. Dia pasti kecewa karena percaya bisa juara, tapi waktu mengalahkan kita semua. Ini hari yang menyedihkan bagi sepak bola.”
Ronaldo sendiri belum memutuskan masa depannya di tim nasional. “Saya akan bertemu keluarga dan mengambil keputusan dengan kepala dingin,” katanya setelah pertandingan. Namun, banyak yang menduga ini adalah perpisahan resminya dari Piala Dunia.
Dukungan Fans untuk Sang Legenda
Meski kritik bermunculan, para penggemar Portugal tetap memberikan penghormatan. Salah satu suporter yang ditemui BBC berkata, “Salah satu mimpiku adalah melihat Ronaldo bermain langsung. Aku sangat emosional. Apa yang sudah dia lakukan indah. Kita tidak perlu menangis, kita harus tertawa karena kita sempat melihatnya.”
Statistik Ronaldo di Piala Dunia 2026 memang tak secemerlang sebelumnya. Ia hanya mencatatkan tiga gol, sama dengan torehan Messi saat masih muda. Namun, pengaruhnya di luar lapangan tetap tak terbantahkan. Karier internasional Ronaldo mungkin telah berakhir, tapi warisannya akan terus dikenang.
Kesimpulan: Akhir Era yang Penuh Kontroversi
Piala Dunia 2026 bukan hanya menandai berakhirnya perjalanan Cristiano Ronaldo di turnamen ini, tetapi juga membuka diskusi tentang bagaimana seharusnya seorang pelatih mengelola pemain bintang yang sudah uzur. Roberto Martinez dianggap gagal mengambil keputusan berani, dan Portugal pun membayar mahal. Kini, sepak bola Portugal harus memulai babak baru tanpa Ronaldo dan Martinez.
Bagi para penggemar, kenangan akan Ronaldo di Piala Dunia tetaplah indah—dari debutnya yang penuh talenta hingga air mata di Dallas. Dan seperti kata suporter tadi, lebih baik tertawa karena pernah menyaksikannya, daripada menyesali apa yang tidak terjadi.
