Mengapa Banyak Pemain Inggris Bermain di Serie A?

Jumlah pemain Inggris di Serie A musim ini mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Dari 21 pemain Britania yang berkarier di klub-klub Italia, mayoritas merupakan pemain Inggris, dipimpin sederet nama tim nasional seperti John Stones dan Djed Spence yang bergabung dengan Inter. Fenomena ini bukan sekadar ramainya bursa transfer biasa, melainkan penanda babak baru dalam hubungan panjang antara sepak bola Inggris dan Italia.

Yang membuat gelombang ini menarik adalah skalanya. Sejak lebih dari 50 pemain Inggris tercatat pernah tampil di Serie A, belum pernah ada yang sebanyak sekarang. Perubahan ini dipengaruhi oleh banyak hal sekaligus: warisan para pelopor, reputasi pemain Britania di mata klub Italia, berkembangnya akademi di Inggris, hingga ketimpangan ekonomi antara Premier League dan liga-liga Eropa lainnya.

Rekor Baru Pemain Inggris di Serie A

Angka 15 pemain Inggris yang kini memperkuat klub Italia jauh melampaui jumlah pada dekade-dekade sebelumnya, ketika biasanya hanya segelintir nama yang tampil di sana pada satu waktu. Lonjakan itu terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat, sehingga memicu pertanyaan tentang apa sebenarnya yang berubah. Jawabannya tidak tunggal, melainkan gabungan dari faktor sepak bola, budaya, dan ekonomi.

Inter Milan menjadi contoh paling mencolok dari gelombang ini. Sepanjang sejarah berdirinya, klub tersebut hanya pernah diperkuat tiga pemain Inggris: Gerry Hitchens pada 1961, Paul Ince pada 1995, dan Ashley Young pada 2020. Kini jumlah itu bertambah setelah Inter merekrut Curtis Jones dari Liverpool pada musim panas ini, melengkapi kehadiran Stones dan Spence di skuad.

Stones sendiri mengaku gembira bisa bergabung dengan klub sebesar Inter. “Saya punya begitu banyak emosi. Saya benar-benar senang, bangga, dan bersemangat. Saya tidak bisa membayangkan tempat yang lebih baik untuk melakukannya,” ujarnya. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana klub Italia kini dipandang bukan sebagai pilihan cadangan, melainkan tujuan yang prestisius.

Dari Charles Adcock hingga Gelombang 1980-an

Orang Inggris pertama yang bermain untuk klub Italia bukanlah nama besar seperti David Beckham atau Paul Gascoigne. Ia adalah Charles Adcock, seorang mantan tentara yang pindah ke Padova tak lama setelah Perang Dunia II setelah bakatnya terlihat saat bermain untuk tim tentara Britania. Dalam kebetulan yang aneh, Adcock tidak pernah tampil di kompetisi liga di negaranya sendiri. Setelah beberapa tahun di Italia, ia kembali ke Inggris pada 1953 dan bermain untuk Peterborough United, yang saat itu berstatus klub non-liga.

Gelombang besar pertama pemain Inggris ke Serie A terjadi pada 1980-an. Trevor Francis, pemain pertama yang dibeli dengan harga £1 juta, bergabung dengan Sampdoria pada 1982. Ia kemudian bersaing dengan Mark Hateley dan Ray Wilkins, yang keduanya menghabiskan tiga musim memperkuat Milan pada pertengahan dekade tersebut.

Pada 1990-an, Gascoigne menjadi bintang Inggris paling menonjol di Italia. Di sisinya juga ada pemain-pemain yang bukan bintang utama, seperti Franz Carr dan Danny Dichio. Sepanjang dua dekade itu, jumlah pemain Inggris di Serie A selalu bisa dihitung dengan jari, sangat berbeda dari 15 pemain yang kini berkarier di sana.

Kisah para pemain itu dulu diikuti penggemar di Inggris lewat Gazzetta Football Italia yang dibawakan James Richardson. Kini, liputan Serie A terutama hadir di TNT di bawah komentator Adam Summerton, yang menyaksikan langsung perubahan lanskap ini.

Peran Pelopor dan Reputasi Pemain Britania

Summerton menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang “multifaset”. Menurutnya, semuanya dimulai dari para pelopor seperti Liam Henderson, yang sudah bermain di Italia sejak 2018, serta Chris Smalling yang menyusul pada 2019. Smalling menghabiskan lima tahun di Roma dan terpilih sebagai pemain terbaik dalam final Conference League perdana pada 2022 di bawah asuhan José Mourinho.

Summerton juga menyoroti bagaimana direktur olahraga klub Italia menilai pemain Britania. Ia menyebut mereka sangat menghargai kerja keras, profesionalisme, dan ketangguhan, khususnya pemain Skotlandia. Reputasi sebagai pribadi yang baik di ruang ganti menjadi nilai tambah tersendiri ketika sebuah klub membangun tim.

Selain itu, cara pandang terhadap pemain Britania telah berubah. Generasi baru dinilai lebih matang dan justru menikmati perbedaan budaya. Menurut Summerton, dunia kini terasa lebih kecil, dan pemain modern lebih cenderung melihat peluang alih-alih kesulitan ketika bermain di luar negeri. Banyak dari mereka, katanya, merasa menjadi lebih dewasa dan lebih lengkap setelah menjalani pengalaman tersebut, baik sebagai pribadi maupun sebagai pesepak bola.

Keinginan menyerap budaya setempat juga menjadi ciri khas gelombang ini. Pemain tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga menikmati kuliner lokal. Apresiasi Scott McTominay terhadap tomat khas Napoli, misalnya, menjadi pembicaraan publik. Karena sebagian besar dari mereka menjalani pengalaman yang positif, wajar bila pemain lain ikut tertarik mencoba jalur serupa.

Pemain Skotlandia Mengubah Persepsi

Perubahan citra pemain Britania di Italia tidak lepas dari kontribusi pemain Skotlandia. Lewis Ferguson, yang pindah ke Bologna pada 2022, terpilih sebagai gelandang terbaik Serie A pada musim 2023-24 dan menjadi kapten klub ketika Bologna mengalahkan Milan di final Coppa Italia tahun lalu. Prestasi itu membuktikan bahwa pemain asal Britania mampu menjadi tokoh sentral, bukan sekadar pelengkap skuad.

Jejak Ferguson dilanjutkan Scott McTominay. Setelah bergabung dengan Napoli, ia memenangi penghargaan pemain terbaik Serie A sekaligus membantu klub tersebut meraih gelar juara liga. Capaian dua pemain ini secara langsung mengubah cara klub Italia memandang rekrutan dari Britania.

Faktor lain yang membuat pemain Inggris kerasan adalah tradisi sepak bola Italia yang kaya. Fikayo Tomori, misalnya, pernah bercerita tentang bagaimana ia setiap hari memandang lambang Milan di pakaian latihannya dan merasa bangga bisa membela klub besar itu. Tomori juga berusaha keras mempelajari bahasa Italia dan tak lama setelah bergabung pada 2020 sudah melakukan wawancara dalam bahasa setempat. Sikap ini membantah anggapan lama bahwa pemain Britania enggan berasimilasi.

Akademi, Ekonomi, dan Peluang Bermain

Faktor teknis juga berperan besar. Pembinaan di akademi Premier League kini berkembang sedemikian rupa sehingga menghasilkan pemain dengan kemampuan teknis yang cocok dengan gaya permainan Serie A. Salah satu contohnya adalah Omari Hutchinson, produk akademi Chelsea yang baru saja pindah ke Milan dengan status pinjaman dari Nottingham Forest.

Kepindahan Hutchinson sekaligus menyoroti persoalan yang lebih membumi: ketidakseimbangan ekonomi antara Premier League dan liga-liga Eropa lain. Menurut Summerton, pemain bagus yang hanya berada di pinggiran skuad klub Premier League melihat Italia sebagai kesempatan untuk menjadi sosok penting di liga besar bersama klub ternama. Dengan kata lain, Serie A menawarkan menit bermain dan peran yang sulit didapat di Inggris.

Kombinasi antara daya tarik kompetitif, kualitas hidup, dan peluang tampil di panggung Eropa membuat Italia semakin menarik bagi pemain Inggris. Hal ini menjelaskan mengapa arus kepindahan tidak hanya datang dari pemain muda yang mencari pengalaman, tetapi juga dari pemain yang sudah mapan.

Pemain yang Patut Ditunggu Musim Ini

Summerton menilai Curtis Jones punya tanda-tanda awal yang menjanjikan di Inter. Menurutnya, Jones adalah tipe pemain yang benar-benar diinginkan pelatih Inter, Cristian Chivu. Penampilan Jones bersama Liverpool melawan Inter di Liga Champions musim lalu disebut menjadi benih yang membuka jalan kepindahannya.

Selain Jones, Summerton juga antusias menyoroti Trevoh Chalobah. Ia menilai bek tengah itu langsung masuk ke salah satu proyek paling menarik di dunia saat ini, yaitu Como, tempat Cesc Fàbregas melakukan pekerjaan luar biasa. Chalobah memulai musim dengan baik, dan timnya sudah tampil kuat di lini pertahanan.

Chalobah sendiri sudah tahu apa yang bisa diharapkan dari Fàbregas karena keduanya pernah berlatih bersama di Chelsea. “Saya ingat betapa menuntutnya dia terhadap pemain muda. Saya mengenalnya dengan sangat baik,” katanya. Bekerja dengan legenda sepak bola di klub yang ambisius menjadi daya tarik tersendiri baginya, terlebih karena ia juga bisa tinggal di dekat Danau Como sambil bermain di Liga Champions.

Masa Depan Pemain Inggris di Serie A

Rekor jumlah pemain Inggris di Serie A musim ini adalah hasil akumulasi dari banyak hal: jasa para pelopor seperti Liam Henderson dan Chris Smalling, kesuksesan pemain Skotlandia seperti Lewis Ferguson dan Scott McTominay, perubahan sikap pemain muda terhadap pengalaman di luar negeri, serta ketimpangan ekonomi yang mendorong pemain mencari peran lebih besar. Semua faktor itu saling menguatkan dan menciptakan efek bola salju.

Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin arus kepindahan pemain Britania ke Italia akan semakin deras pada musim-musim berikutnya. Selama klub Italia tetap memberi ruang, kepercayaan, dan peran penting, Serie A akan terus menjadi tujuan menarik bagi pemain yang ingin berkembang sekaligus merasakan pengalaman baru di luar Premier League.