Spanyol kalahkan Inggris 3-2 pada laga pembuka Nations League di Wembley, dan gol Mikel Oyarzabal di penghujung pertandingan menjadi penentu hasil akhir. Penyerang pengganti itu menyelesaikan umpan Álex Baena dengan penyelesaian cungkil yang halus sekaligus berani, memaksa tuan rumah menelan kekalahan setelah sempat memimpin di babak kedua. Kekalahan ini terasa pahit, tetapi tidak memicu kemarahan besar karena lawan yang dihadapi memang berada di level yang berbeda.
Bagi Thomas Tuchel, pertandingan ini adalah ujian pertama Inggris setelah kekecewaan di semifinal Piala Dunia melawan Argentina. Publik Wembley yang hadir tidak menunjukkan reaksi negatif, bahkan ketika lini belakang Inggris tampil begitu longgar. Di sisi lain, Spanyol datang dengan status juara bertahan Eropa dan baru saja mengangkat trofi dunia, sehingga kemenangan mereka di London seolah menegaskan hierarki yang berlaku di sepak bola internasional saat ini.
Spanyol Kalahkan Inggris Nations League Lewat Drama Lima Gol
Spanyol membuka keunggulan ketika laga baru berjalan dua menit. Lamine Yamal mencetak gol setelah merebut bola dari Marc Guéhi, yang berusaha membangun serangan dari lini belakang namun seluruh jalur umpannya tertutup. Bek Manchester City itu kemudian berbalik arah dan justru berjalan tepat menuju Yamal, yang langsung merampas bola, lolos sendirian, lalu menaklukkan James Trafford dengan penyelesaian yang tampak begitu mudah.
Inggris tidak larut dalam tekanan. Mereka menyamakan kedudukan melalui proses yang berawal dari Nico Williams kehilangan keseimbangan, sebelum bola jatuh ke Elliot Anderson dan disapu cepat ke depan. Anthony Gordon memberi umpan kepada Jude Bellingham, menerima bola kembali, lalu menusuk ke kotak penalti dan menyelesaikan peluang dengan tenang. Gol kedua Inggris lahir tak lama berselang dari sundulan Kane yang menyambut umpan silang Nico O’Reilly; Marc Cucurella panik dan menyodok bola dengan paha hingga melewati kipernya sendiri. Cucurella nyaris menuai petaka lain ketika umpan silangnya yang tidak sempurna pada menit ke-45 melewati Trafford dan membentur tiang jauh.
Lima gol tercipta malam itu. Gol terakhir yang dicatatkan Oyarzabal dari umpan Baena memastikan Inggris mengakhiri laga tanpa tambahan poin, meski sempat memegang kendali pertandingan sebelum turun minum.
Penalti Kane dan Momen yang Mengubah Arah Laga
Arah pertandingan berubah pada menit ke-54. Bellingham kembali menusuk dari lini tengah, Gordon mengirim bola ke dalam, dan gelandang Real Madrid itu tiba lebih dulu sebelum Rodri, yang menjulurkan kakinya dan menciptakan pelanggaran. Setelah peninjauan, wasit memutuskan bahwa kontak tersebut lebih kuat daripada kesan bahwa pemain Inggris sengaja mencari pelanggaran. Kane maju sebagai eksekutor, tetapi tendangannya membentur mistar setelah kaki tumpuannya tergelincir di rumput.
Andai bola masuk, Inggris akan unggul 3-1 dan peta pertandingan bisa berjalan sangat berbeda. Sebaliknya, Spanyol langsung menaikkan tempo setelah peluang emas itu gagal dikonversi menjadi gol. Yamal melepaskan tembakan yang melebar usai kombinasi dengan Baena, yang sebelumnya memperlihatkan sentuhan tumit belakang nan indah.
Gol penyama kedudukan datang tidak lama kemudian. O’Reilly kehilangan bola, Dani Olmo dengan cepat mengalihkannya ke tepi kotak penalti, dan Baena membeli ruang untuk menembak lewat gerakan turun bahu yang rapi. Sejak titik itu, momentum sepenuhnya berpindah ke kubu Spanyol, dan gelombang serangan mereka sulit dibendung.
Bellingham, Gordon, dan Penampilan Trafford di Bawah Mistar
Bellingham tampil seperti pemain yang bertekad meninggalkan jejak di laga ini. Ia berlari dengan tenaga dan kegigihan luar biasa, mengombinasikan kekuatan, kecepatan, serta kelancaran gerakan yang membuat lini tengah Spanyol kewalahan. Spanyol berkali-kali tidak mampu menghentikannya, dan kegigihannya setelah serangkaian tusukan justru menjadi awal terciptanya penalti. Gordon juga tampil menonjol, bergerak agresif di sisi sayap dan menjadi ujung tombak perlawanan saat Inggris terdesak.
Di bawah mistar, Trafford mendapat kepercayaan yang cukup mengejutkan karena Tuchel memilihnya ketimbang Jordan Pickford. Keputusan itu menyimpang dari niat awal pelatih asal Jerman tersebut untuk menjaga kesinambungan skuad pasca-Piala Dunia, terutama karena Pickford tampil tidak konsisten pada musim panas lalu. Rencana Tuchel adalah membagi menit bermain antara Trafford dan Pickford pada jendela pertandingan ini, dan Trafford membuktikan diri dengan sejumlah penyelamatan penting, termasuk blok satu lawan satu melawan Ferran Torres setelah Yamal mengirim umpan terobosan.
Inggris sesekali melancarkan serangan balik yang mengesankan. Kane melepaskan tembakan yang melebar tipis dari tepi kotak penalti setelah Bukayo Saka menusuk dari sisi kanan. Pada akhir laga, Saka juga melepaskan tembakan melengkung yang hanya sedikit melebar, tetapi bukan itu yang menjadi penentu hasil.
Dampak Kekalahan Ini bagi Tuchel dan Inggris
Menarik dicatat bahwa nama Tuchel tidak disebutkan saat pengumuman susunan pemain sebelum kick-off, setelah sebelas pemain utama dan dua belas pemain pengganti dibacakan. Meski demikian, tidak ada cemoohan yang menggema di Wembley ketika peluit akhir berbunyi. Sikap publik itu penting bagi Tuchel, yang tengah berusaha membangun kembali kepercayaan setelah kegagalan di turnamen besar sebelumnya.
Masalah terbesar yang harus segera dibenahi jelas ada di lini pertahanan. Inggris tampak kewalahan menghadapi pressing Spanyol, dan beberapa kesalahan individu berbuah peluang berbahaya. Guéhi kehilangan bola untuk gol pembuka, sementara koordinasi antar pemain belakang kerap terlihat goyah sepanjang pertandingan.
Kekalahan ini juga memperlihatkan bahwa kedalaman skuad Inggris masih menjadi pekerjaan rumah. Pergantian pemain Spanyol justru meningkatkan kualitas permainan, sedangkan Inggris lebih banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik. Jika pola ini berlanjut, Tuchel perlu menemukan cara agar timnya tetap kompetitif ketika menghadapi lawan sekelas Spanyol.
Spanyol di Atas Semua Tim Internasional Saat Ini
Ada alasan mengapa Spanyol menjuarai Piala Dunia pada musim panas lalu dan meraih gelar Kejuaraan Eropa sebelumnya. Mereka saat ini adalah tim terbaik di sepak bola internasional dengan jarak yang cukup jauh dari pesaing terdekat, dan hampir tidak ada tim yang mampu mengimbangi permainan mereka. Inggris bertahan sebaik mungkin untuk tetap memiliki peluang hasil, dengan Bellingham masih terus mengancam hingga masa tambahan waktu.
Kualitas Spanyol terlihat dari pergerakan tanpa bola, kecepatan transisi, dan ketenangan luar biasa saat menguasai bola. Mereka memiliki begitu banyak opsi dalam possession sehingga sering terasa seolah jumlah pemain mereka lebih banyak. Ferran Torres sempat memasukkan bola ke gawang sebelum dianulir karena offside, dan ia juga gagal memaksimalkan dua peluang satu lawan satu melawan Trafford. Olmo melepaskan tembakan yang melebar setelah sentuhan cerdik Yamal.
Perubahan yang dilakukan pelatih Luis de la Fuente terbukti tepat. Baena menyamakan kedudukan, dan Oyarzabal menyelesaikan umpan rekannya untuk memastikan kemenangan. Ini adalah pernyataan niat dari Spanyol, sekaligus gambaran tentang hasrat mereka yang tidak mengenal kompromi.
Inggris sebenarnya tampil berani dan digerakkan oleh Bellingham, tetapi mereka berhadapan dengan tim yang sedang berada di puncak kepercayaan diri. Serentetan tekanan Spanyol di 30 menit pertama dan gelombang kedua setelah penalti Kane menunjukkan kedalaman kualitas yang sulit ditandingi. Bagi tim-tim lain di Eropa, laga ini menjadi peringatan bahwa meraih hasil melawan Spanyol membutuhkan penampilan nyaris sempurna.
Hasil di Wembley menegaskan dua hal sekaligus: Spanyol tetap menjadi yang teratas, sementara Inggris masih mencari identitas baru di bawah Tuchel. Ada banyak bahan perbaikan, mulai dari ketenangan Kane dari titik penalti hingga kerapuhan lini belakang, namun juga ada tanda-tanda positif seperti penampilan Bellingham dan Gordon. Jika Inggris mampu menjaga semangat bertanding seperti yang mereka tunjukkan malam itu dan merapikan pertahanan, langkah menuju kompetisi berikutnya masih terbuka lebar.
