Dua petugas video assistant referee (VAR) yang menangani laga derby Manchester akhir pekan lalu, Matt Donohue dan asisten VAR-nya Blake Antrobus, tidak mendapatkan penugasan untuk pertandingan Premier League pada akhir pekan ini. Pencoretan tersebut menjadi respons langsung setelah muncul kontroversi VAR derby Manchester pada laga Manchester United melawan Manchester City di Old Trafford. Keputusan ini menegaskan bahwa kesalahan dalam pengambilan keputusan berbasis teknologi tetap berujung pada konsekuensi bagi para petugasnya.
Langkah itu diambil oleh chief refereeing officer badan perwasitan Pro Ref, Howard Webb, bersama tim manajemennya. Keputusan tersebut menyusul pengakuan resmi Pro Ref bahwa telah terjadi “error of judgement” atau kesalahan penilaian dalam proses pemberian gol kemenangan Erling Haaland untuk Manchester City. Dengan tidak adanya penugasan akhir pekan ini, Donohue dan Antrobus untuk sementara ditarik dari rotasi pertandingan Liga Primer, sebuah sinyal yang jarang muncul ke permukaan secara eksplisit.
Siapa yang Dicoret dan Apa yang Sebenarnya Terjadi
Matt Donohue berperan sebagai VAR utama dalam laga derby tersebut, sementara Blake Antrobus mendampinginya sebagai asisten VAR. Keduanya kini absen dari daftar penugasan pertandingan Premier League akhir pekan ini, yang berarti mereka tidak akan terlibat dalam pengambilan keputusan berbasis tayangan ulang pada laga-laga berikutnya. Keputusan penarikan ini diambil di level tertinggi struktur perwasitan, yakni oleh Howard Webb dan tim manajemen Pro Ref, bukan oleh mekanisme otomatis.
Pencoretan semacam ini biasanya hanya terjadi ketika sebuah kesalahan dinilai cukup signifikan sehingga memengaruhi hasil pertandingan secara langsung. Dalam kasus derby Manchester, gol yang diperdebatkan memang menentukan kemenangan Manchester City, sehingga bobot kesalahannya jauh lebih besar dibanding kesalahan teknis biasa. Karena itu, keputusan untuk tidak menugaskan keduanya pada akhir pekan ini bisa dibaca sebagai bentuk pertanggungjawaban sekaligus upaya meredam tekanan publik.
Kronologi Gol Haaland yang Memicu Kontroversi
Erling Haaland mencetak gol pada menit ke-60 di Old Trafford dengan menyelesaikan umpan silang Josko Gvardiol dari tiang belakang. Gol tersebut awalnya dianulir di lapangan karena offside, tetapi setelah intervensi VAR, gol itu disahkan. Penyerang asal Norwegia itu dinilai berada dalam posisi onside karena kaki Patrick Dorgu yang membuatnya terjaga dalam posisi sah.
Namun, muncul perdebatan apakah gol tersebut seharusnya tetap dianulir karena gelandang City, Enzo Fernandez, berada dalam posisi offside dan dianggap mengganggu jalannya permainan. Ia disebut melakukan gerakan menyundul bola di posisi tengah sebelum Haaland menyelesaikan peluang tersebut. Perdebatan inilah yang kemudian menjadi dasar pengakuan kesalahan dari Pro Ref.
Pro Ref dalam pernyataannya menjelaskan duduk perkara penilaian tersebut. “Diketahui bahwa Enzo Fernandez tidak memainkan bola dan karena itu membuat setiap pelanggaran offside menjadi subjektif,” demikian bunyi pernyataan Pro Ref. “Namun, pada kesempatan ini, VAR tidak mengenali kemungkinan dampak dari posisinya dan seharusnya merekomendasikan tinjauan di lapangan.” Pernyataan itu menegaskan bahwa kesalahan bukan terletak pada penilaian offside Dorgu, melainkan pada kegagalan VAR membaca potensi gangguan dari posisi Fernandez.
Dampak bagi Kredibilitas Perwasitan dan Jalannya Kompetisi
Konsekuensi dari keputusan ini tidak berhenti pada dua nama yang dicoret. Pengakuan kesalahan secara terbuka oleh Pro Ref menunjukkan bahwa badan perwasitan berusaha menjaga akuntabilitas di tengah meningkatnya sorotan terhadap penggunaan VAR. Namun di sisi lain, hal ini juga memperkuat anggapan bahwa konsistensi keputusan di lapangan masih menjadi persoalan yang belum tuntas.
Dari kacamata kompetisi, kemenangan City atas United membuat juara bertahan itu mempertahankan rekor sempurna di Liga Primer dari empat pertandingan. Hasil tersebut kian terasa krusial karena City harus bermain dengan sepuluh orang setelah Phil Foden menerima kartu merah pada menit ke-23. Artinya, gol kontroversial itu terjadi ketika City bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit, sehingga dampak dari keputusan VAR terhadap hasil akhir pertandingan semakin besar.
Bagi Manchester United sendiri, situasi ini menambah daftar panjang keluhan soal keputusan yang dianggap merugikan. Ketika badan perwasitan akhirnya mengakui kesalahan, pertanyaan yang tersisa adalah seberapa jauh pengakuan itu bisa memulihkan kepercayaan pihak-pihak yang dirugikan. Poin sudah berpindah tangan dan klasemen tidak berubah, sehingga pengakuan tersebut lebih bersifat koreksi moral ketimbang perbaikan hasil.
Desakan Transparansi dan Masa Depan Penggunaan VAR
Kasus ini menjadi bagian dari tren yang lebih luas, yakni meningkatnya tuntutan agar proses pengambilan keputusan VAR lebih terbuka kepada publik. Salah satu topik yang mengemuka adalah kemungkinan membuka akses audio komunikasi live antara wasit dan petugas VAR kepada penonton. Wacana itu muncul karena banyak penggemar merasa tidak mendapat gambaran utuh tentang alasan di balik sebuah keputusan selama pertandingan berlangsung.
Keterbukaan semacam ini dinilai bisa mengurangi spekulasi yang berkembang cepat di media sosial setiap kali ada keputusan kontroversial. Jika alasan di balik keputusan disampaikan secara langsung, publik bisa menilai prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya. Namun, membuka audio secara langsung juga membawa risiko tersendiri, terutama jika terjadi kesalahan komunikasi yang justru memperkeruh situasi.
Pengakuan kesalahan atas gol kemenangan Haaland di derby Manchester sekaligus menunjukkan bahwa mekanisme koreksi internal tetap berjalan, meski hanya setelah pertandingan selesai. Pertanyaannya, apakah pola serupa akan terus berulang pada laga-laga besar berikutnya atau justru mendorong reformasi cara kerja VAR secara menyeluruh. Inilah titik yang akan terus diawasi penggemar, klub, dan pengamat sepak bola Inggris.
Kesimpulan
Pencoretan Matt Donohue dan Blake Antrobus dari jadwal Premier League akhir pekan ini adalah konsekuensi langsung dari pengakuan Pro Ref atas kesalahan penilaian dalam gol kemenangan Erling Haaland. Keputusan Howard Webb dan tim manajemen Pro Ref menegaskan bahwa kelalaian dalam membaca situasi offside subjektif tidak dianggap sebagai hal sepele. Di sisi lain, kemenangan City tetap berdiri dan rekor sempurna empat pertandingan mereka tidak berubah.
Yang tersisa dari peristiwa ini adalah pertanyaan tentang transparansi dan konsistensi. Selama proses pengambilan keputusan masih tertutup, setiap kontroversi berpotensi memicu gelombang kritik yang sama. Bagi Pro Ref, mengakui kesalahan adalah langkah awal, tetapi membangun kepercayaan jangka panjang menuntut perubahan yang lebih mendasar pada cara VAR dioperasikan.
