Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Quarter Final - Argentina v Switzerland - Kansas City Stadium, Kansas City, Missouri, U.S. - July 11, 2026 Switzerland's Breel Embolo is shown a red card by referee Joao Pinheiro after a VAR review REUTERS/Albert Gea TPX IMAGES OF THE DAY

Kontroversi VAR Gagalkan Kroasia, Ronaldo Melaju di Piala Dunia 2026

Laga sengit antara Portugal dan Kroasia di Piala Dunia 2026 menyisakan drama yang tak terlupakan. Sebuah keputusan kontroversial dari Video Assistant Referee (VAR) menjadi titik balik yang mengakhiri perjuangan Luka Modric, sekaligus memperpanjang mimpi Cristiano Ronaldo. Momen ini bahkan disebut oleh komentator BBC Steve Wilson sebagai “salah satu keputusan VAR terbesar yang pernah ada.”

Kronologi Dramatis di Menit Akhir

Kroasia tertinggal 2-1 dari Portugal setelah babak kedua yang kacau. Namun, harapan mereka hidup kembali saat Josko Gvardiol mencetak gol dari jarak dekat pada menit ke-13 waktu tambahan. Selebrasi liar pun terjadi, sementara Ronaldo yang sudah diganti terlihat patah semangat di bangku cadangan.

Babak tambahan waktu sepertinya sudah di depan mata. Tapi wasit asal Norwegia, Espen Eskas, menerima pemberitahuan untuk memeriksa gol tersebut. Pertanyaan besarnya: apakah kepala Igor Matanovic menyentuh bola dalam prosesnya? Jika ya, posisinya offside; jika tidak, gol sah.

Penantian tegang terjadi saat Eskas meninjau tayangan ulang berkali-kali. Gambar TV tampak tidak meyakinkan. Namun, teknologi Snickometer—yang mirip dengan alat deteksi di kriket—menunjukkan adanya sentuhan. Gol pun dianulir. Itu nyaris menjadi sentuhan terakhir pertandingan.

Reaksi Kemarahan Suporter Kroasia

Keputusan ini memicu aksi anarkis. Botol plastik beterbangan ke lapangan dari suporter Kroasia yang marah. Mereka merasa mimpi Piala Dunia hancur dengan cara paling kejam. Bagi Luka Modric yang berusia 40 tahun, ini hampir pasti menjadi pertandingan Piala Dunia terakhirnya. Sementara Ronaldo—yang baru saja disebut saudarinya sebagai “tarian terakhir”—masih bisa melanjutkan perjalanan.

Teknologi Snickometer dan Bola Cerdas

Bagaimana sebenarnya teknologi itu bekerja? Snickometer atau Snicko identik dengan kriket, tapi dalam beberapa tahun terakhir sepak bola mengadopsi alat serupa. Bola pertandingan Trionda buatan Adidas untuk Piala Dunia 2026 memiliki mikrochip yang bisa mendeteksi setiap sentuhan. Data presisi seperti sentuhan kaki atau tangan langsung dikirim ke wasit VAR secara real-time.

Teknologi serupa sudah dipakai di Piala Dunia 2022 dan Euro 2024. Namun, implementasinya kali ini menuai perdebatan sengit.

Pro dan Kontra dari Pelatih

Kritik Pedas Zlatko Dalic

Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, enggan berkomentar panjang. “Saya tidak akan banyak bicara, tapi saya bisa katakan wasit sangat buruk,” ujarnya dalam konferensi pers. “Tidak ada pelanggaran, tidak ada tendangan bebas untuk kami yang seharusnya diberikan. VAR membunuh emosi, membunuh segalanya dalam diri Anda. Kita sudah terlalu jauh dengan VAR.”

Pembelaan Roberto Martinez

Sebaliknya, pelatih Portugal Roberto Martinez lebih terbuka. “Sayang sekali salah satu tim harus kalah. Tapi tidak ada keputusan buruk atau beruntung. Itu momen yang jelas. Bola sekarang punya chip dan sensor menunjukkan bola disentuh.”

Pandangan Para Ahli

Mantan bek Inggris Matt Upson yang menjadi komentator sempat ragu. “Saat tayangan ulang pertama, saya tidak yakin Matanovic menyentuh bola. Putaran bola tidak berubah,” katanya. Namun setelah melihat lagi, ia mengakui bahwa Snicko menunjukkan sentuhan, meski ia sendiri masih sulit melihat perubahan arah bola.

Sementara itu, asisten wasit Premier League Darren Cann mengonfirmasi: “Dia offside saat bola terakhir dimainkan rekan setimnya, dan bola dibelokkan bek, bukan sengaja dimainkan, jadi offside tetap berlaku. Snicko 100% membuktikan dia menyentuh bola.”

Roller Coaster Emosi Ronaldo

Bagi Ronaldo, laga ini naik turun. Kroasia unggul lebih dulu melalui Ivan Perisic di babak pertama yang mengecewakan bagi Portugal. Kapten Portugal kemudian mencetak gol indah yang dianulir offside, sebelum menyamakan skor lewat penalti—itu adalah gol pertamanya di babak gugur Piala Dunia dalam enam turnamen.

Ronaldo tampak kecewa saat ditarik keluar pada menit ke-81. Namun ia tetap berlari ke lapangan merayakan gol Goncalo Ramos yang membuat Portugal unggul 2-1 di menit ke-94. Mantan pemain Inggris Theo Walcott menilai keputusan menarik Ronaldo sudah tepat. “Dia sudah punya momennya. Pada akhirnya, itu keputusan yang benar.”

Akhir Era Luka Modric

Sementara Ronaldo masih bertahan, bagi Modric inilah akhir dari era. Gelandang berusia 40 tahun itu sudah mengisyaratkan mendekati titik akhir kariernya bersama Kroasia. Ia tampil dalam 200 pertandingan internasional, termasuk 23 laga Piala Dunia.

Setelah peluit akhir, Ronaldo—mantan rekan setimnya di Real Madrid—menghibur Modric. Mantan gelandang Brasil Lucas Leiva mengatakan, “Sangat keras bagi Kroasia untuk tersingkir seperti ini, bagi Luka Modric, mungkin laga Piala Dunia terakhirnya. Dia legenda, sudah menunjukkan kebolehannya selama 20 tahun. Sedih melihatnya, tapi dia punya karier hebat dan membawa Kroasia ke level tertinggi di Piala Dunia.”

Kesimpulan: Harga dari Teknologi

Pertandingan ini menyajikan segalanya: gol yang dianulir, penalti kontroversial, intrik Ronaldo, dan drama VAR. Keputusan Snickometer memang akurat secara teknis, tapi memicu perdebatan soal apakah teknologi semacam ini justru membunuh esensi sepak bola—emosi dan kegembiraan spontan. Bagi Kroasia, kekalahan ini pahit. Bagi Portugal dan Ronaldo, perjalanan masih berlanjut. Namun satu hal pasti: kontroversi VAR Piala Dunia 2026 akan dikenang lama.