Alex Freeman menjadi salah satu sosok paling menonjol dalam kemenangan Villarreal atas Valencia pada laga derby regional Spanyol akhir pekan lalu. Bermain di tiga posisi berbeda dalam satu pertandingan, bek berusia 22 tahun itu mencetak gol pertamanya di La Liga sekaligus dinobatkan sebagai man of the match. Penampilan tersebut menegaskan reputasinya sebagai bek muda yang mampu mengubah jalannya pertandingan bagi klub sekelas peserta Liga Champions.
Laga di Mestalla itu sebenarnya nyaris kehilangan panggung. Sebagian besar perhatian publik sepak bola Spanyol tenggelam oleh Clásico pertama sejak José Mourinho kembali menangani Real Madrid. Namun derby antara Valencia dan Villarreal punya daya tariknya sendiri, terutama karena sejarah panjang dua klub yang bersaing di wilayah yang sama sejak miliarder Fernando Roig memilih membeli Villarreal alih-alih mengikuti jejak sang kakak, Paco, yang memimpin Valencia. Di tengah atmosfer itulah Freeman mendapat kesempatan menunjukkan kualitasnya.
Bermain di Tiga Posisi, Freeman Jadi Penentu
Freeman datang ke laga tersebut dengan modal menit bermain sebagai pemain pengganti saat Villarreal kalah dari Liverpool di Liga Champions beberapa hari sebelumnya. Melawan Valencia, ia dimainkan sejak awal, tetapi bukan di posisi favoritnya sebagai bek kanan. Pelatih menempatkannya di sisi kiri pertahanan, posisi yang terbilang asing baginya, dan ia tetap tampil meyakinkan. Kemampuannya membaca permainan sesuai dengan pujian Mauricio Pochettino beberapa waktu sebelumnya.
Dari sisi kiri, Freeman sempat melepaskan umpan-umpan berbahaya dengan kaki kirinya dan menciptakan dua peluang sebelum Valencia membuka keunggulan lewat titik penalti. Publik tuan rumah mungkin mengira jalan terbaik Villarreal untuk menyamakan kedudukan adalah bola mati. Kenyataannya, gol penyama datang dari permainan terbuka, dan Freeman berada di tempat yang tepat untuk menyelesaikannya.
Memasuki menit ke-65, beberapa pergantian pemain membuat Freeman kembali ke posisi aslinya di bek kanan. Ia kemudian diminta melebar layaknya seorang gelandang sayap kanan menyusul keluarnya pemain di sektor tersebut. Perubahan itu langsung membuahkan hasil. Pada menit ke-69, Villarreal membangun serangan dari sisi kiri dan mengirim umpan lambung ke arah Freeman di dalam kotak penalti. Ia menusukkan bola melewati kepadatan pemain Valencia, menemukan celah tersempit antara kiper dan bek terakhir, dan mencetak gol pertamanya di kompetisi domestik Spanyol.
Setelah itu Freeman kembali digeser, kali ini benar-benar berperan sebagai gelandang kanan ketika Iñigo Pérez memasukkan bek tambahan. Ia memang tidak terlibat langsung dalam gol kemenangan di penghujung laga, tetapi tetap menjaga larinya di sisi kanan agar pertahanan Valencia terus tertarik melebar sementara rekan-rekannya membangun serangan dari sisi kiri dan tengah. Ketika peluit akhir berbunyi, sebagian besar pemain Villarreal jatuh berlutut merayakan kemenangan. Freeman justru berjalan menghampiri dan memberi selamat kepada rekan-rekannya satu per satu.
Dari Orlando City ke Villarreal dengan Harga Rp65 Miliar
Kemampuan Freeman tampil di berbagai posisi bukan hal baru bagi Pérez. Sang pelatih menyebutnya sebagai salah satu dari empat bek sayap berkualitas papan atas yang ia miliki dan menilai mereka punya peran mendasar dalam mewujudkan visi permainannya. Menurutnya, Villarreal membutuhkan pemain yang sangat lentur peran, dan Freeman adalah contoh sempurna dari tipe pemain tersebut.
“Dia bisa bermain sebagai bek tengah, bek sayap, bek kiri, lebih ke depan, wing-back; dia bahkan pernah bermain di kedua sisi untuk tim nasionalnya,” ujar Pérez. “Jadi keserbagunaan dan dinamisme itu, ditambah kualitas tekniknya, membuat seorang pelatih percaya diri menempatkannya di posisi mana pun atau memintanya melakukan hal yang mungkin mengejutkannya. Dan seperti yang Anda lihat, dia mampu bermain dengan ketenangan yang luar biasa.”
Perjalanan Freeman ke Eropa sebenarnya belum genap setahun. Ia resmi meninggalkan Orlando City pada 29 Januari, dan Villarreal mendapatkannya dengan mahar awal sekitar 4 juta dolar AS atau setara Rp65 miliar. Nilai itu terbilang sangat bersahabat karena Villarreal bergerak sebelum Freeman meledak bersama tim nasional Amerika Serikat di Piala Dunia. Kini, setelah golnya di La Liga dan status man of the match dalam derby, wajar bila nilai berikutnya diperkirakan menuntut tambahan satu digit angka di depan.
Dampak bagi Villarreal dan Posisi Freeman di Skuad
Bagi Villarreal, fleksibilitas Freeman memberi Pérez keleluasaan yang jarang dimiliki pelatih lain. Ketika pertandingan menuntut perubahan bentuk, ia tidak perlu menukar pemain untuk mengubah struktur permainan. Freeman dapat bergeser dari sayap ke tengah tanpa menurunkan kualitas, dan hal itu membuat rotasi skuad menjadi lebih efisien di tengah padatnya jadwal domestik serta kompetisi Eropa.
Kepercayaan diri yang ditunjukkan Freeman juga memberi sinyal penting soal adaptasinya di sepak bola Spanyol. Bermain di sisi sayap yang bukan sisi dominannya bukan perkara sederhana, apalagi dalam laga sepanas derby. Kemampuan bertahan di posisi baru, lalu tetap efektif saat kembali ke posisi asli, menunjukkan bahwa proses adaptasinya berjalan lebih cepat dibanding perkiraan banyak pihak. Bagi pemain yang baru setengah tahun lebih berada di Eropa, itu capaian yang tidak kecil.
Yang Masih Harus Diasah dan Prospek ke Depan
Meski tampil impresif, catatan pertandingan memperlihatkan sejumlah hal yang perlu diperbaiki. Penyerang-penyerang senior Valencia masih terlalu mudah mengungguli Freeman dalam duel udara, terutama saat bola diarahkan langsung ke wilayah pertahanannya. Mereka menancapkan pijakan lebih kokoh dan membaca sudut datangnya bola setengah detik lebih cepat. Sebagian persoalan itu bisa dijelaskan oleh posisinya yang bermain di sisi berlawanan dari kebiasaan, tetapi tetap saja itu hal yang wajar diperbaiki seiring bertambahnya menit bermain.
Aspek lain yang masih bisa diasah adalah penggunaan dribel untuk menciptakan ruang ekstra dari penjagaan lawan. Freeman sempat beberapa kali membawa bola ke depan dengan efektif sebelum Villarreal harus bermain dengan 10 orang pada menit ke-79, tetapi konsistensi dalam hal ini masih perlu dibangun. Dengan menit bermain yang terus bertambah, penyempurnaan detail-detail teknis semacam ini tampak sebagai soal waktu.
Potensi besar Freeman sudah lama terlihat oleh Pochettino. Setelah Freeman mencetak gol dalam kemenangan Amerika Serikat atas Australia di Piala Dunia pada 19 Juni, sang pelatih menyebutnya sebagai pribadi yang rendah hati, selalu mendengarkan, dan menyenangkan untuk dilatih. “Menurut saya, dia punya potensi menjadi salah satu pemain terbaik di posisinya di dunia,” kata Pochettino saat itu.
Dalam konteks pemain Amerika Serikat yang berkarier di luar negeri, Freeman tergolong langka. Ia adalah bek yang mampu mengubah jalannya pertandingan bagi klub sekelas peserta Liga Champions, sesuatu yang belum banyak dimiliki negaranya. Sejak Pochettino menangani tim nasional AS, tidak ada pemain yang melesat seterang Freeman, dan ia baru saja memulai perjalanannya.
Kesimpulan
Penampilan Freeman melawan Valencia merangkum hampir semua yang membuatnya istimewa: keserbagunaan posisi, keberanian mengambil keputusan di kotak penalti, dan ketenangan yang jarang dimiliki pemain seusianya. Gol pertamanya di La Liga sekaligus status man of the match menjadi bukti bahwa investasi 4 juta dolar Villarreal beberapa bulan lalu adalah langkah cerdas yang diambil tepat pada waktunya.
Namun kisah Freeman belum sampai di titik puncak. Duel udara dan kemampuan menciptakan ruang lewat dribel masih menjadi pekerjaan rumah, sementara pujian dari Pérez dan Pochettino menunjukkan bahwa batas kemampuannya masih jauh dari final. Bila tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin nilai transfernya keluar dari angka satu digit juta dolar dalam waktu dekat.
