Paris Saint-Germain kembali meraih kemenangan di Ligue 1, tetapi cara mereka mengamankan tiga poin melawan tim promosi Le Mans justru memunculkan pertanyaan besar. PSG masih bergantung pada pemain inti meski telah menggelontorkan dana lebih dari €150 juta pada bursa transfer musim panas lalu. Pelatih Luis Enrique bahkan menyebut situasi itu sebagai hal yang “biasa” ketika empat pemain kunci harus dimasukkan sekitar menit ke-60 untuk memastikan kemenangan 3-1.
Laga di kandang itu seharusnya menjadi panggung bagi para pemain pelapis. Namun kenyataan berkata lain, karena sejumlah bintang utama justru diistirahatkan, termasuk Ousmane Dembélé dan Nuno Mendes. Fakta bahwa para pemain inti tetap harus diturunkan menunjukkan bahwa proyek rotasi PSG belum berjalan sesuai rencana, dan hal ini menjadi sorotan di tengah kompetisi yang baru berjalan beberapa pekan.
Kemenangan 3-1 atas Le Mans yang Tak Meyakinkan
PSG membuka keunggulan lewat titik penalti Lucas Beraldo pada pertengahan babak pertama. Keunggulan itu tidak bertahan lama. Louis Mafouta menyamakan kedudukan untuk Le Mans dengan penyelesaian sekali sentuh memanfaatkan umpan silang melengkung, sebuah momen yang menunjukkan bahwa pertahanan PSG malam itu bisa digoyahkan.
Lini belakang PSG malam itu memang bukan susunan darurat, tetapi komposisinya lebih lemah dibandingkan tim utama. Para pemain yang diturunkan adalah pilihan sadar Luis Enrique, bukan karena keterpaksaan, dan mereka cukup sering dipercaya pada laga-laga semacam ini. Karena itu, kesulitan yang dihadapi tuan rumah menjadi sinyal yang kurang menyenangkan bagi kedalaman skuad mereka.
Luis Enrique secara terbuka memberi pujian tinggi kepada pekerjaan Patrick Videira, pelatih Le Mans. Pujian itu beralasan. Tim promosi tersebut memang sempat merepotkan beberapa tim besar Ligue 1 meski beroperasi dengan anggaran yang jauh lebih kecil.
Kontrasnya terlihat mencolok. PSG menurunkan talenta penyerang senilai total €150 juta, sementara pemain terbaik Le Mans musim ini, Adil Bourabaa, absen pada laga itu dan bahkan hanya direkrut dengan nilai sekitar €15.000 pada Januari lalu. Perbedaan sumber daya yang begitu jauh membuat hasil akhir laga ini terasa kurang melegakan bagi tim tamu maupun bagi tuan rumah.
Belanja Besar, PSG Masih Bergantung pada Pemain Inti
Dalam beberapa tahun terakhir, Ligue 1 terasa seperti misi sampingan bagi PSG. Klub tidak hanya berhasil mengatur ulang jadwal pertandingan demi mendukung kampanye Liga Champions, tetapi para bintangnya juga jarang tampil di kompetisi domestik. Ousmane Dembélé, misalnya, hanya menjadi starter dalam 12 laga Ligue 1 musim lalu, namun tetap memenangi gelar pemain terbaik, sebuah hasil yang sempat menuai perdebatan. Ia tidak masuk daftar pemain pada laga melawan Le Mans, begitu pula Nuno Mendes, karena keduanya diistirahatkan meski musim baru berjalan paruh Oktober.
Pola itu tercermin pula dalam kebijakan transfer musim panas. PSG menghabiskan lebih dari €150 juta, tetapi hampir tidak ada pemain baru yang tampak mampu menggeser posisi para starter di posisinya masing-masing. Kehadiran mereka lebih berfungsi untuk memungkinkan rotasi, bukan untuk mengubah hierarki tim, sehingga ketika mereka tampil, istilah yang sering muncul adalah “manajemen skuad”.
Setelah jeda internasional yang panjang, laga akhir pekan menjadi kesempatan bagi para pemain pelapis. Mika Godts, Maghnes Akliouche, dan Ferran Torres, yang totalnya menelan biaya €150 juta, semuanya menjadi starter. Di lini tengah ada peluang bagi Dro Fernández dan Lucas Beraldo, sementara di belakang ada Lucas Digne, Lucas Hernández, dan Illia Zabarnyi.
Nama-nama itu punya panggungnya sendiri, sementara pemain seperti Willian Pacho, Fabián Ruiz, Désiré Doué, Khvicha Kvaratskhelia, Dembélé, Mendes, dan Vitinha juga memiliki panggungnya. Namun, fakta bahwa empat pemain inti harus diterjunkan melawan Le Mans menunjukkan bahwa rencana itu belum sepenuhnya berjalan, dan ketergantungan pada pemain inti justru makin terlihat.
Dampak dan Implikasi: Berjalan di Tepi Jurang
Sekitar €100 juta talenta PSG ditarik keluar satu jam setelah laga berjalan. Masuklah Kvaratskhelia, Ruiz, Doué, dan Vitinha. Hasilnya langsung terasa. Tendangan jarak jauh Ruiz yang tidak dapat diantisipasi dengan sempurna jatuh ke jalur Kvaratskhelia, yang mencetak gol hanya dua menit setelah masuk.
Performa Akliouche sejak bergabung dari Monaco dengan harga €50 juta memang menjengkelkan bagi banyak pihak karena belum konsisten. Namun ia menjadi satu-satunya penyerang yang dibiarkan Luis Enrique dalam pergantian di tengah laga, dan keputusan itu terbayar lewat gol pertamanya untuk PSG yang menutup kemenangan.
PSG telah memenangi tiga laga liga terakhir mereka, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar meyakinkan. Jendela transfer musim panas seharusnya tentang membangun XI alternatif yang mampu memenangi liga dengan mudah. Kenyataan bahwa para pemain utama tetap harus dipanggil dari bangku cadangan menjadi persoalan tersendiri bagi manajemen klub.
Meski begitu, jika PSG gagal mengulang kesuksesan Eropa musim ini, penyebabnya bukan karena Kvaratskhelia, Doué, Mendes, dan kolega mereka dipaksa bermain beberapa menit lebih lama di Ligue 1. Penyebabnya adalah karena para pemain pelapis tidak cukup didorong untuk menembus posisi starter, sehingga persaingan internal melemah.
Konteks Lebih Luas dan Ujian Berikutnya
Motivasi PSG untuk kembali bersaing di Liga Champions sempat dipertanyakan tahun lalu, dan mereka membalasnya dengan jawaban yang tegas. Kehadiran Bradley Barcola berarti empat penyerang kelas dunia bersaing untuk tiga posisi. Kepergiannya ke Liverpool membuat Godts, Akliouche, dan Torres harus mengambil tanggung jawab lebih besar untuk mendorong para starter.
Namun performa Torres melawan Le Mans adalah yang terburuk selama ia berseragam PSG, sementara Godts belum benar-benar menemukan permainannya sejak bergabung. Akliouche memang mengejutkan Luis Enrique dengan penampilannya, tetapi konsistensinya masih dipertanyakan. Kualitas individu yang seharusnya menjadi pembeda justru belum muncul secara stabil.
PSG kemungkinan akan melakukan sembilan perubahan pemain lapangan untuk laga Liga Champions melawan Manchester City pada Rabu, menghadapi tim asuhan Enzo Maresca. Persoalan yang terlihat melawan Le Mans seharusnya tidak menjadi faktor di laga tersebut karena komposisi tim akan kembali mendekati kekuatan terbaiknya.
Meski demikian, ada perasaan bahwa PSG, lebih dari tahun lalu, sedang berjalan di tepi jurang. Skuad Luis Enrique memang sengaja dibuat tipis, tetapi para pemain yang didatangkan untuk memenangi laga Ligue 1 justru kesulitan melakukannya. Karena itu, memenangi Liga Champions untuk ketiga kalinya secara berturut-turut akan menjadi tuntutan yang sangat berat, dan Luis Enrique berharap para pemain intinya tidak harus terus-menerus menutupi celah itu.
Sorotan Lain di Ligue 1
Di tempat lain, Marseille akhirnya merasakan kelegaan setelah mengalahkan sesama tim yang kesulitan, Troyes, dengan skor 2-0 dan keluar dari zona degradasi. Tim asuhan Bruno Génésio itu sebelumnya kalah dalam empat dari lima laga pertama Ligue 1 dan masuk jeda internasional di posisi kedua dari bawah. Rangkaian jadwal mereka memang berat karena harus menghadapi Monaco, Paris FC, Rennes, dan PSG yang semuanya sedang dalam performa bagus.
Laga melawan Troyes, Angers, dan Le Havre seharusnya memberi gambaran yang lebih akurat tentang level sebenarnya Marseille. Namun berdasarkan penampilan akhir pekan lalu, level mereka belum tinggi dan batas kemampuan mereka terlihat rendah. Kiper mereka sendiri, Jeffrey De Lange, mengakui bahwa timnya tidak bermain bagus melawan Troyes, yang bahkan melewatkan dua peluang emas di akhir laga.
Troyes baru benar-benar tumbang lewat penalti pada menit ke-98, dan kini turun ke dua posisi terbawah. Meski Marseille seharusnya bisa menghindari perebutan zona degradasi, kenaikan tajam di klasemen tampak sulit diwujudkan jika performa tidak segera membaik.
Di Nice, Dário Essugo yang dipinjam dari Chelsea mencatatkan start pertamanya dan mencetak gol pertamanya untuk Strasbourg dalam kekalahan 2-1. Musim ini menjadi periode penting bagi pemain muda internasional Portugal tersebut jika ingin menembus skuad Chelsea, sementara Jonathan Clauss menjadi pencetak gol kemenangan untuk Nice. Setelah hampir setahun gagal menang di kandang di Ligue 1, Nice kini meraih dua kemenangan beruntun.
Bagi Strasbourg, kekhawatiran yang muncul cukup banyak dan sahih, mulai dari kreativitas, konsistensi, hingga soliditas pertahanan. Awal musim tidak mudah bagi pelatih baru Hugo Oliveira, yang dituntut membangun keterpaduan dari gelombang besar pemain yang datang pada musim panas. Tugas itu bukan pekerjaan yang menyenangkan, dan sejauh ini hasilnya masih belum memenuhi ekspektasi.
Klasemen Ligue 1 (Setelah 6 Laga)
| Pos | Tim | P | SG | Poin |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Monaco | 6 | 5 | 14 |
| 2 | Lille | 6 | 5 | 13 |
| 3 | Rennes | 6 | 2 | 13 |
| 4 | Lyon | 6 | 7 | 11 |
| 5 | Paris FC | 6 | 4 | 11 |
| 6 | PSG | 6 | 3 | 11 |
| 7 | Brest | 6 | 3 | 8 |
| 8 | Lorient | 6 | 0 | 8 |
| 9 | Nice | 6 | -2 | 8 |
| 10 | Lens | 6 | 1 | 7 |
| 11 | Strasbourg | 6 | -1 | 7 |
| 12 | Angers | 6 | -3 | 7 |
| 13 | Marseille | 6 | 1 | 6 |
| 14 | Le Mans | 6 | -2 | 6 |
| 15 | Toulouse | 6 | -2 | 6 |
| 16 | Auxerre | 6 | -8 | 6 |
| 17 | Troyes | 6 | -9 | 4 |
| 18 | Le Havre | 6 | -4 | 2 |
Kemenangan 3-1 atas Le Mans memang menjaga tren positif PSG di Ligue 1, tetapi tidak menyembunyikan masalah yang lebih mendasar, yakni skuad pelapis mereka belum mampu memikul beban kompetisi domestik sendirian. Selama pemain seperti Kvaratskhelia, Ruiz, Doué, dan Vitinha masih harus masuk untuk menyelamatkan hasil, strategi manajemen skuad PSG akan terus menjadi sorotan.
Ujian sebenarnya menanti pada Rabu melawan Manchester City, di mana PSG hampir pasti kembali menurunkan tim terbaiknya. Jika mereka kembali meraih hasil positif, perdebatan tentang ketergantungan pada pemain inti mungkin mereda untuk sementara. Namun dalam jangka panjang, PSG perlu memastikan bahwa dana besar yang dibelanjakan musim panas ini benar-benar menghasilkan kedalaman skuad, bukan sekadar pelengkap bagi barisan starter mereka.
