Alexéi Rojas bukan kiper biasa. Mantan penjaga gawang Arsenal ini dikenal karena keberaniannya bersuara soal krisis iklim, bahkan sejak masih berusia 15 tahun di akademi Hale End. Kegelisahannya soal masa depan lingkungan membuatnya mengubah kebiasaan di ruang latihan, dari soal tempat sampah hingga lampu yang menyala tanpa perlu.
Kisah Alexéi Rojas menarik untuk disimak karena ia bukan aktivis lingkungan yang jauh dari lapangan. Ia adalah pemain yang sehari-hari berlatih bersama David Raya dan Kepa Arrizabalaga, dua kiper yang ia kagumi sejak kecil. Dengan posisi itu, ia menunjukkan bahwa kepedulian terhadap keberlanjutan bisa berjalan seiring dengan ambisi karier di sepak bola elite.
Siapa Alexéi Rojas dan Kenapa Isu Iklim Jadi Prioritasnya
Dalam wawancaranya, Rojas mengaku sebagai pribadi yang cenderung berbeda dari kebanyakan orang. Ia mengaku senang menjadi unik, baik dalam hal kepribadian maupun cara ia menjalani hidup. Menurutnya, sifat itulah yang justru mendorongnya memilih posisi kiper, karena ia menikmati peran yang membuatnya tampil beda.
Minat Rojas pada krisis iklim tumbuh dari lingkungan keluarganya. Ibunya bekerja di sektor energi angin, dan Rojas kecil sering berkunjung ke kantor sang ibu untuk mempelajari lebih jauh soal energi terbarukan beserta potensinya. Dari situ ia memahami bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Pemahaman itu ia bawa ke akademi Arsenal. Di usia 15 tahun, Rojas sudah berani menyampaikan gagasan soal keberlanjutan di depan banyak orang di Hale End. Ia mengaku langsung menyambar kesempatan tersebut, dan dengan tegas mengatakan bahwa ada masalah yang harus segera diperbaiki, bukan sekadar dibicarakan.
Mengubah Hale End: dari Tempat Sampah sampai Lampu Latihan
Kritik Rojas pada fasilitas latihan Arsenal cukup konkret. Ia menyoroti tidak adanya tempat sampah daur ulang di lingkungan akademi, sesuatu yang menurutnya harus segera ditambahkan. Ia juga menilai penggunaan plastik di sana berlebihan dan bisa digantikan dengan barang yang bisa dipakai ulang atau kemasan yang dapat dikompos.
Selain soal sampah, Rojas menyoroti pemborosan energi. Ia menyebut banyak lampu di tempat latihan yang terus menyala padahal tidak diperlukan. Bagi Rojas, persoalan-persoalan ini bukan hal sepele, melainkan cerminan kebiasaan yang perlu diubah agar sebuah klub bisa disebut benar-benar peduli pada lingkungan.
Perubahan yang ia dorong tidak berhenti pada dirinya sendiri. Staf akademi menyadari bahwa keberlanjutan adalah hal yang benar-benar ia perjuangkan, dan rekan-rekan setimnya mulai beralih menggunakan botol minum isi ulang. Menurut Rojas, respons tersebut menjadi gambaran kecil tentang apa yang bisa terjadi ketika seseorang berani mengambil sikap.
Sarung Tangan Daur Ulang dan Peran Klub dalam Keberlanjutan
Rojas menegaskan bahwa klub sepak bola punya tanggung jawab aktif untuk mendorong praktik berkelanjutan. Ia menyebut bahwa upaya itu bisa muncul dalam banyak bentuk, mulai dari cara kit diproduksi, asal bahan yang digunakan, hingga kampanye keberlanjutan yang menyertai aktivitas klub. Semua itu, menurutnya, penting untuk terus didorong dan diperlihatkan kepada publik.
Ia sendiri menerapkan prinsip tersebut pada perlengkapan yang ia pakai. Sarung tangan yang dikenakannya mengandung bahan daur ulang, dan produsennya menyumbangkan sebagian dana untuk program pembersihan plastik dari laut. Bagi Rojas, ini cara agar peralatan yang selalu identik dengan kiper juga bisa membawa dampak positif bagi lingkungan.
Namun ia menyadari bahwa olahraga elite punya persoalan struktural yang sulit dihindari. Tim-tim top harus bepergian lintas benua untuk bertanding, sementara turnamen internasional besar menarik penonton dari berbagai penjuru dunia. Dampak karbon dari aktivitas semacam ini, kata Rojas, jarang sekali diperhitungkan secara serius.
Dampak Krisis Iklim pada Sepak Bola Akar Rumput
Rojas menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim mungkin belum terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari para pemain. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa kecintaan orang pada pertandingan dan Piala Dunia bisa terganggu jika umur panjang permainan itu sendiri tidak dijaga. Tanpa perlindungan terhadap keberlangsungan sepak bola, momen-momen besar yang selama ini dinanti bisa saja hilang.
Ia memberi contoh yang sangat membumi: menonton bola bersama teman-teman bisa jadi tidak mungkin dilakukan jika pertandingan batal digelar karena kondisi cuaca. Dengan membuat isu ini terasa dekat dan relevan, Rojas berharap semua orang yang berkecimpung di dunia sepak bola bisa memahami potensi dampaknya di masa depan.
Kepedulian itu bukan sekadar teori. Rojas lahir di Basildon, Essex, dan menempuh pendidikan di Inggris, tetapi juga mewakili Kolombia di level junior, sehingga ia menyaksikan sendiri perubahan iklim yang berlangsung cepat di berbagai belahan dunia. Musim panas 2026 yang ekstrem membuat lapangan akar rumput di berbagai wilayah Inggris tampak seperti gurun.
Akibatnya, awal musim di sebagian wilayah Inggris harus ditunda. Permukaan lapangan yang kering dan bergelombang dinilai tidak layak untuk digunakan setelah berbulan-bulan cuaca kering. Rojas menekankan bahwa hal ini pada akhirnya mengancam keberlangsungan sepak bola, karena pemain elite selalu memulai perjalanan mereka di tim lokal di taman, dan tanpa kondisi lapangan yang layak, banyak peluang akan hilang.
Charity Boots di Kenya: Menyelesaikan Dua Masalah Sekaligus
Kepedulian Rojas tidak hanya soal iklim, tetapi juga soal kesetaraan akses. Pemain berusia 21 tahun itu pernah terbang ke Kenya untuk program Charity Boots guna menyerahkan perlengkapan yang didonasikan. Menurutnya, langkah ini menyelesaikan dua persoalan sekaligus dalam satu waktu.
Pertama, masalah lingkungan. Peralatan yang tidak lagi dipakai tidak berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar, sehingga mengurangi beban sampah. Kedua, masalah kesetaraan, karena bantuan tersebut membuka akses bagi orang-orang kurang beruntung di berbagai negara untuk menikmati perlengkapan olahraga dan sepatu bola.
Bagi Rojas, dampaknya lebih dari sekadar barang. Ia berharap perlengkapan itu membuat penerimanya bisa bermain, bersenang-senang, dan pada akhirnya terinspirasi untuk berkembang. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa isu lingkungan dan isu sosial bisa ditangani bersamaan tanpa harus saling mengorbankan.
Perjalanan Karier: dari Bangku Cadangan Arsenal ke Penafiel
Di sisi karier, Rojas pernah dua kali masuk daftar pemain cadangan Arsenal di bawah asuhan Mikel Arteta, masing-masing satu kali di Liga Champions dan satu kali di Carabao Cup. Meski demikian, ia tidak pernah tampil untuk tim senior klub tersebut. Ia sempat menjadi bagian dari departemen kiper Arsenal ketika klub itu menjuarai Premier League musim lalu, berlatih setiap hari bersama David Raya dan Kepa Arrizabalaga.
Setelah delapan tahun bersama Arsenal, Rojas memutuskan hengkang pada musim panas lalu. Ia bergabung dengan Penafiel di kasta kedua Liga Portugal, langkah yang memberinya kesempatan untuk mengejar menit bermain lebih banyak di level senior. Keputusan ini menandai babak baru dalam perjalanannya sebagai pesepakbola profesional.
Mengenang masa di Arsenal, Rojas menyebut pengalaman berada di antara pemain kelas dunia sebagai sesuatu yang ia impikan sejak kecil. Ia mengaku bahwa lima atau enam tahun sebelumnya, banyak pemain yang ia latih bersama setiap hari adalah sosok yang ia tonton di televisi dan ia kagumi. Berada di skuad yang bersaing di Premier League, Carabao Cup, dan Liga Champions, menurutnya, adalah hal yang ia bayangkan sejak masih anak-anak.
Penutup
Kisah Alexéi Rojas memperlihatkan bahwa seorang pesepakbola bisa berkontribusi pada dua hal sekaligus: mengejar prestasi di lapangan dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Sejak usia 15 tahun, ia sudah mendorong perubahan nyata di akademi Arsenal, mulai dari penyediaan tempat sampah daur ulang hingga pengurangan pemborosan energi di tempat latihan.
Kini, seiring langkahnya bersama Penafiel di Portugal, misi itu tidak berubah. Dengan menyoroti dampak krisis iklim pada lapangan akar rumput dan mendukung program seperti Charity Boots, Rojas menunjukkan bahwa kekuatan sepak bola bisa dimanfaatkan untuk hal yang lebih luas daripada sekadar hasil pertandingan.
