Denmark kalahkan Wales dengan skor 2-0 pada laga lanjutan Nations League di Stadion Parken, Kopenhagen, dan hasil itu membuat Wales terpuruk di dasar Grup A4 tanpa satu pun poin maupun gol dari dua pertandingan pertama mereka. Dua gol tuan rumah lahir di babak kedua melalui gol bunuh diri Ben Davies serta sepakan Gustav Isaksen, setelah babak pertama berjalan dengan tekanan hebat dari tim tuan rumah.
Kekalahan ini terasa makin menyakitkan karena Wales baru saja menelan hasil serupa saat melawan Portugal. Manajer Craig Bellamy pun tidak menyembunyikan kekecewaannya, bahkan menyebut dirinya sedang benar-benar terluka. Di sisi lain, Denmark tampil dengan tekanan yang tak kalah besar setelah kalah 3-2 dari Norwegia pada laga pembuka, sehingga kemenangan ini menjadi jawaban penting bagi mereka.
Denmark Kalahkan Wales 2-0 Lewat Gol Bunuh Diri dan Aksi Isaksen
Setelah babak pertama berakhir tanpa gol, Denmark akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-53 melalui situasi tendangan bebas. Mikkel Damsgaard mengirim umpan matang ke kotak penalti, dan Rasmus Højlund sempat berlari menjauh untuk merayakan gol karena mengira dirinya yang menyentuh bola terakhir. Namun, bola ternyata masuk setelah mengenai Ben Davies, sehingga gol tersebut dicatat sebagai gol bunuh diri pemain Wales itu.
Gol kedua datang pada menit ke-66 dan kembali memperlihatkan ketanggapan pemain Denmark dalam membaca situasi. Kieffer Moore sempat menyapu bola di garis gawang Wales, tetapi Isaksen bergerak paling cepat menyambar bola lepas. Sepakan pemain sayap Lazio itu mengenai pemain lain dan masuk ke gawang setelah membentur sisi bawah mistar, memastikan keunggulan dua gol untuk tuan rumah.
Denmark sebenarnya berpeluang menambah gol lagi, salah satunya lewat peluang emas Mohamed Daramy yang gagal dimanfaatkan dengan baik. Wales juga sempat mencetak gol pada akhir laga, tetapi sundulan Neco Williams dianulir karena dinilai mendorong Ethan Ampadu. Secara keseluruhan, hasil ini dianggap belum menggambarkan besarnya dominasi Denmark, yang menurut catatan pertandingan seharusnya bisa menang dengan margin lebih nyaman.
Dominasi Denmark Sejak Awal dan Peluang Wales yang Terbuang
Sejak menit-menit awal, Denmark sudah nyaman mengalirkan bola melewati lini tengah Wales yang tampak longgar. Neco Williams tertangkap lengah oleh umpan Joachim Andersen dari lini belakang, dan Isaksen langsung melepaskan tembakan yang melebar. Isaksen kemudian mengirim umpan silang yang disundul Patrick Dorgu, tetapi bola masih melenceng dari sasaran.
Tuan rumah sempat mengira telah unggul pada menit ke-24. Serangan balik yang dipimpin Damsgaard berujung pada sepakan voli keras Isaksen memanfaatkan umpan silang Højlund, tetapi VAR menganulir gol itu karena offside dalam proses terjadinya. Beberapa detik setelahnya, Damsgaard masih bisa membentur tiang gawang, sehingga gol Denmark terasa hanya soal waktu.
Namun, Wales perlahan mulai menemukan celah. Setelah Dorgu meninggalkan lapangan dan langsung menuju ruang ganti — sebuah kabar buruk potensial bagi Manchester United yang menaunginya — Wales beberapa kali menciptakan peluang. Sorba Thomas melepas tembakan dari jarak 20 yard yang sedikit melebar setelah kesalahan Andersen, lalu dua menit sebelum turun minum Brennan Johnson menusuk ke garis belakang dan mengirim bola ke Connor Roberts, yang tembakannya di bawah tekanan berhasil ditepis Filip Jörgensen dari jarak dekat.
Pada awal babak kedua, Williams melepaskan tembakan yang mengarah tepat ke arah Jörgensen. Peluang itu menjadi salah satu momen terakhir Wales terlihat mengancam sebelum Denmark akhirnya memecah kebuntuan dan mengendalikan sisa pertandingan.
Enam Perubahan Bellamy dan Sorotan pada Charlie Savage
Bellamy datang ke Kopenhagen dengan kenangan indah, karena saat berusia 19 tahun ia pernah mencetak gol kemenangan Wales di Stadion Parken pada kualifikasi Euro 2000. Menyadari jadwal pertandingan yang padat dan jarak antar laga yang pendek, ia menjanjikan rotasi besar dan akhirnya melakukan enam perubahan pada susunan pemain.
Keputusan paling mencolok adalah promosi Charlie Savage, putra mantan pemain internasional Wales, Robbie Savage. Ia bergabung dengan skuad setelah sejumlah pemain mengundurkan diri, sementara dua penampilan pertamanya sebelumnya keduanya terjadi pada laga melawan Gibraltar. Daniel James, Kieffer Moore, dan Sorba Thomas membentuk trisula serangan baru, sedangkan Chris Mepham dan Connor Roberts dimasukkan untuk memperkuat lini pertahanan.
Meski perubahan tersebut sempat membuat Wales lebih hidup di penghujung babak pertama, secara keseluruhan lini tengah mereka tetap sulit menahan aliran bola Denmark. Rotasi yang dilakukan Bellamy memang tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan menjaga kebugaran pemain, tetapi laga ini menunjukkan bahwa kedalaman skuad Wales masih menjadi persoalan serius di level kompetisi ini.
Dampak Kekalahan: Wales di Ambang Degradasi Grup A4
Kekalahan dari Denmark menempatkan Wales di posisi terbawah Grup A4 dengan nol poin dan nol gol dari dua pertandingan. Mereka sebelumnya kalah 1-0 dari Portugal pada laga pembuka, sehingga jalan untuk menghindari degradasi dari grup teratas Nations League kini terasa semakin curam. Dengan dua laga tersisa, margin kesalahan Wales hampir tidak ada lagi.
Bagi Bellamy, situasi ini menjadi ujian pertama yang cukup berat sejak ia menangani tim. Ia mengakui bahwa tim terbaik memang menang, dan menyebut hasil akhir laga ini sebagai sesuatu yang adil meskipun menyakitkan. Ia juga menegaskan bahwa para pemainnya sudah menunjukkan keberanian dengan mempertaruhkan tubuh mereka di lapangan, sesuatu yang ia nilai istimewa, tetapi tetap belum cukup untuk memberi poin bagi Wales.
Di sisi lain, kemenangan ini memberi Denmark napas lega setelah kekalahan dari Norwegia. Tekanan yang tadinya mengarah kepada mereka kini berpindah ke kubu Wales, dan pertandingan berikutnya akan menjadi penentu apakah Wales masih punya peluang bertahan di Grup A4 atau harus bersiap turun kasta.
Apa Selanjutnya: Norwegia dan Laga Balik di Cardiff
Jalan Wales tidak akan menjadi lebih mudah, karena berikutnya mereka menjamu Norwegia, tim yang diperkuat Erling Haaland, pada Kamis mendatang. Setelah itu, mereka akan melakoni laga balik melawan Denmark di Cardiff. Dua pertandingan tersebut menjadi kesempatan sekaligus ancaman bagi Wales untuk memperbaiki posisi mereka di grup.
Bellamy sendiri sudah menegaskan bahwa fokusnya sekarang hanya tertuju pada dua laga yang tersisa. Ia yakin timnya akan membaik dan para pemainnya akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Ia juga mengakui bahwa menonton ulang pertandingan ini nanti akan menjadi pengalaman yang berat, tetapi hal itu tetap perlu dilakukan sebagai bahan evaluasi.
Menarik untuk dilihat apakah Wales mampu bangkit di kandang, terutama karena mereka belum mencetak satu gol pun sejauh ini di Grup A4. Jika tren itu berlanjut, tekanan terhadap Bellamy dan skuadnya akan makin besar, bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga soal arah pembangunan tim yang sedang ia rancang.
Secara keseluruhan, laga di Kopenhagen menjadi gambaran jelas tentang jarak kualitas antara Wales dan tim-tim papan atas di Grup A4. Denmark tampil lebih efektif, lebih rapi dalam menguasai bola, dan lebih tajam dalam memanfaatkan peluang, sementara Wales harus puas pulang tanpa poin dan tanpa gol. Dengan dua laga tersisa, peluang untuk bertahan masih ada, tetapi Wales wajib segera menemukan cara mencetak gol sekaligus menjaga lini tengah mereka agar tidak lagi mudah ditembus.
Bagi Bellamy, ujian ini bukan sekadar soal angka di klasemen, melainkan soal bagaimana ia membangun kepercayaan diri skuadnya di tengah tekanan hasil. Ia memilih untuk tetap melihat ke depan, meyakini bahwa proses ini akan membuahkan perbaikan, dan menyebut dua pertandingan berikutnya sebagai fokus utamanya saat ini.
