Krisis Tottenham Berlanjut, Belum Cetak Gol 4 Laga

Krisis Tottenham Hotspur belum menemukan titik terang. Setelah empat pertandingan Premier League bergulir, tim asuhan Roberto De Zerbi itu masih belum juga mencetak gol, dan laga terbaru berakhir 0-0 melawan Everton. Tottenham belum mencetak gol sama sekali di awal musim ini, sesuatu yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah klub pada pembukaan sebuah kompetisi liga.

Tekanan terasa jauh lebih berat karena Spurs menghabiskan sekitar £300 juta untuk merombak skuad di bursa transfer musim panas. Investasi sebesar itu semestinya melahirkan lini serang yang tajam, bukan catatan nol gol di empat laga pertama. Sorakan ironis dari South Stand ketika tembakan pertama ke gawang akhirnya tercipta menjadi cermin jelas bahwa kesabaran pendukung mulai menipis.

Jalannya Laga: Tembakan Pertama dan Sorakan Ironis dari Tribun

Setidaknya Tottenham berhasil melepaskan beberapa tembakan tepat sasaran kali ini, hal yang gagal mereka lakukan saat bermain 0-0 di markas Nottingham Forest akhir pekan sebelumnya. Tembakan pertama datang dari Mateus Fernandes pada awal babak kedua, dan momen itu justru disambut sorakan sinis dari tribun selatan. Fakta bahwa sebuah tembakan ke gawang diperlakukan seperti hiburan menunjukkan seberapa dalam persoalan yang dihadapi tuan rumah.

Spurs tampil cemas dan kehilangan kepastian, kecuali satu hal yang sudah menjadi pola: mereka seolah memang tidak akan mencetak gol. Mereka cukup beruntung karena Everton tidak memanfaatkan peluang di ujung lapangan yang lain. Tim asuhan David Moyes mendapat kans besar setelah jeda melalui Thierno Barry, Kiernan Dewsbury-Hall, dan mantan pemain sayap Spurs, Brennan Johnson.

Everton bertahan dengan sangat baik, meski tentu terbantu ketumpulan lini serang Tottenham, dan hasil imbang ini layak mereka dapatkan. Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan Everton pantas menang. Sepanjang 45 menit pertama, peluang Spurs sangat minim; Jan Paul van Hecke melepaskan tembakan setengah voli yang melambung dari sudut sempit di tiang jauh setelah tendangan bebas Andy Robertson, dan itu tercatat sebagai satu-satunya kans mereka di paruh awal.

Ada pula momen ketika Fernandes tersandung di dalam kotak penalti usai menerima umpan bagus dari Van Hecke, sebuah kejadian yang seolah merangkum seluruh persoalan Tottenham. Kegelisahan itu menular ke penonton, lalu berbalik menjadi beban bagi para pemain. Di penghujung babak pertama, James Garner menguji Antonin Kinsky lewat tendangan bebasnya, dan itu menjadi tembakan tepat sasaran pertama dalam pertandingan.

Latar Belakang: Rekor Kandang Tottenham Sejak November 2024

Untuk memahami mengapa krisis Tottenham terasa begitu berat, penting menengok rekam jejak mereka di kandang sendiri. Sepanjang tahun ini, Spurs hanya memenangi satu pertandingan liga di rumah, yaitu laga hidup-mati melawan Everton pada hari terakhir musim lalu. Kemenangan 1-0 itu menyelamatkan mereka dari degradasi, karena kekalahan akan berarti turun kasta.

Sejak November 2024, catatan kandang Tottenham di ajang liga sangat memprihatinkan: dari 35 pertandingan, mereka hanya menang 5 kali, imbang 10 kali, dan kalah 20 kali. Rangkaian angka itu menjelaskan mengapa setiap laga di kandang selalu dibayangi kecemasan. Ketika Everton merayakan hasil imbang bersama pendukungnya di akhir laga, suporter Spurs justru menyambutnya dengan suara boo yang sudah terdengar akrab.

Sulit untuk tidak mengingat pertandingan musim lalu di tempat yang sama, saat Tottenham menang 1-0 demi memastikan tetap bertahan. Laga itu berlangsung sangat menegangkan hingga menit-menit akhir injury time. Nuansa pesimistis di kalangan pendukung tuan rumah ternyata belum hilang, bahkan masih kental; sebelum kick-off saja sudah terdengar celetukan seperti “Semoga beruntung? Ya, kami memang membutuhkannya.”

Misi besar Tottenham musim ini adalah meruntuhkan penghalang psikologis tersebut, namun upaya itu kembali gagal. Harapan memang selalu ada dan sesekali menggelembung di latar belakang. Spurs juga memulai laga dengan cukup baik: menekan ke depan, memindahkan bola dengan cepat, Rodrigo Bentancur mampu mendikte permainan, serta Savio tampil penuh kecepatan dan kelincahan.

Analisis: Ketumpulan Lini Serang di Tengah Krisis Tottenham

Akar masalah Tottenham terletak pada kualitas peluang yang mereka ciptakan. Sebuah statistik sebelum laga menempatkan mereka sebagai tim terburuk di liga dalam hal kualitas kans yang dibuat. Pertanyaannya lalu menjadi: apa yang bisa dilakukan dengan penguasaan bola melawan pertahanan Everton yang terkenal pandai mencekik ruang? Pertanyaan itu menghantui sepanjang 90 menit.

Pada babak kedua, Everton tampil lebih agresif dan seolah menyerap kegugupan Spurs. Mereka mengancam dengan serangan menembus lini belakang. Tyrique George berhasil melewati Archie Gray, yang mengisi posisi bek kanan menggantikan Pedro Porro yang cedera; De Zerbi juga kehilangan Destiny Udogie di sisi kiri karena cedera. Umpan silang George menemukan Barry di tiang jauh, dan sundulannya mengenai Kinsky sebelum melayang keluar gawang.

Tottenham kemudian dibuat menderita oleh kesalahan fatal dalam menguasai bola. Banyak umpan melenceng jauh dari sasaran, termasuk satu dari Kinsky yang langsung mengarah ke Dewsbury-Hall di tepi kotak penalti sendiri. Kinsky menebus kesalahan itu dengan blok cerdik, sementara Dewsbury-Hall mengumpat karena telah menyia-nyiakan peluang emas. Everton jelas menjadi tim yang lebih mungkin mencetak gol di paruh kedua.

Ketegangan juga terlihat di antara para pemain Spurs sendiri. Terjadi adu mulut di lapangan, dan Omar Marmoush sempat dikuasai rasa frustrasi. Brennan Johnson membuang peluangnya pada menit ke-75 dengan tendangan yang terlalu tinggi setelah mendapat umpan dari Dewsbury-Hall. Kilasan terakhir datang ketika Jordan Pickford mengirim clearance buruk ke James Maddison yang masuk sebagai pemain pengganti; bola bergulir ke Lucas Bergvall, tetapi tembakan rendahnya dengan mudah diantisipasi sang kiper.

Everton: Tak Terkalahkan Meski Skuad Terbatas

Everton datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah hasil-hasil bagus di laga pembuka mereka. Skuad David Moyes memang terbilang sangat tipis, tetapi jumlah pemain yang tersedia dirasa cukup pada fase musim seperti ini. Dampak dari hari batas transfer yang dinilai buruk justru tampaknya merekatkan para pemain, bukan memecah mereka.

Everton memang menjadi tim terburuk kedua dalam indeks kualitas peluang, namun penilaian atas mereka selalu diukur dari seberapa baik mereka bertahan. Melawan Tottenham, pertahanan itu terbukti kokoh. Mereka tetap tak terkalahkan, dan hasil di markas Spurs menambah keyakinan bahwa cara bermain mereka berjalan sesuai rencana.

Performa individu di lini belakang menjadi kunci. Blok dan intersep yang rapi memaksa Tottenham bermain di area yang tidak berbahaya, sementara serangan balik Everton selalu menyimpan ancaman. Dengan skuad yang terbatas, kemampuan menjaga struktur seperti ini menjadi aset paling berharga bagi tim asal Merseyside tersebut.

Konteks Lebih Luas: Beban Psikologis dan Apa yang Menanti

Jalan cerita Tottenham musim ini sebenarnya bukan sekadar soal angka. Ada beban psikologis warisan musim lalu, ketika keselamatan di liga ditentukan pada laga terakhir, dan beban itu masih terasa di setiap pertandingan kandang. Para pemain tampak bermain dengan rasa takut melakukan kesalahan, yang justru membuat kesalahan itu benar-benar terjadi.

Everton di sisi lain menunjukkan bagaimana keterbatasan skuad bisa ditutupi lewat organisasi dan disiplin. Tim yang stabil secara kolektif sering kali lebih diuntungkan pada awal musim dibanding tim bertalenta besar yang belum menemukan bentuk permainan terbaiknya. Inilah kontras utama yang muncul dari laga ini.

Untuk Tottenham, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memecah kebuntuan sebelum tekanan semakin besar. Modal penguasaan bola dan kecepatan pemain sayap seperti Savio nyatanya belum cukup tanpa penyelesaian akhir yang tajam. Selama kualitas peluang tidak dibenahi, setiap laga kandang berpotensi berubah menjadi pertandingan yang penuh kecemasan.

Secara keseluruhan, duel melawan Everton memperjelas bahwa krisis Tottenham bukan sekadar cerita empat laga tanpa gol. Ada rekor kandang yang buruk sejak November 2024, belanja besar yang belum berbuah hasil, dan suporter yang mulai menyuarakan kekecewaan. Satu-satunya hal yang sedikit melegakan adalah bahwa mereka akhirnya mencatat tembakan tepat sasaran, meski bahkan itu pun disambut dengan sorakan sinis.

Tanpa gol, Tottenham tidak bisa berharap hasil pertandingan berubah. Everton pulang dengan kepuasan karena tetap tak terkalahkan dan nyaris mencuri kemenangan, sementara Spurs harus segera menemukan cara mengubah penguasaan bola menjadi angka di papan skor. Jika tidak, kata “krisis” akan terus menempel pada klub ini sepanjang musim.