Lucy Bronze, bek Chelsea dan timnas Inggris, menegaskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat bagi para pemain untuk menyuarakan pendapat mereka soal masa depan sepak bola, termasuk kepemimpinan FIFA. Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers jelang kemenangan Chelsea 5-2 atas Real Sociedad pada leg pertama kualifikasi Liga Champions. Bronze menilai sepak bola harus tetap menjadi yang utama, siapa pun yang memimpin dan siapa pun yang bermain di dalamnya.
Bronze bukan hanya dikenal sebagai salah satu bek terbaik dunia, tetapi juga sosok yang sangat aktif di berbagai organisasi sepak bola. Ia duduk di dewan pemain PFA bersama Kim Little, terlibat dalam berbagai proyek Fifpro dan UEFA, serta bekerja sama dengan UNHCR untuk membantu pengungsi. Kombinasi pengalaman panjang dan energi tanpa batas membuat suaranya semakin didengar dalam percaturan sepak bola global.
Lucy Bronze: Pemain Harus Berani Bicara Soal Kepemimpinan FIFA
Sebelumnya, Lucy Bronze mendukung ancaman boikot kompetisi FIFA oleh negara-negara Eropa sebagai bentuk protes terhadap rencana Gianni Infantino yang kontroversial dan akhirnya gagal untuk menjual Piala Dunia. Kepada New Zealand Herald, ia menegaskan bahwa langkah tersebut diambil demi masa depan sepak bola, bukan hanya untuk kepentingan dirinya saat ini. Menurutnya, suara pemain menjadi kunci untuk menjaga integritas olahraga yang ia cintai.
Pada konferensi pers Selasa lalu, Bronze juga menjelaskan alasannya membagikan unggahan media sosial Mikaël Silvestre, mantan bek Prancis yang menjadi anggota panel suara pemain FIFA. Unggahan tersebut berisi pernyataan bahwa perubahan di level tertinggi sepak bola sudah menjadi kebutuhan mendesak. Bronze menilai momen seperti sekarang adalah kesempatan yang baik bagi para pemain untuk menyampaikan pendapat mereka.
Bronze menegaskan bahwa pertandingan dan kepentingan olahraga harus selalu berada di atas kepentingan individu maupun kelompok tertentu. Ia mengaku sangat menikmati pekerjaan mengembangkan sepak bola, meskipun hal itu kerap menguras emosi. Baginya, perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa keberanian untuk menyuarakan apa yang diyakini benar.
Diagnosis ADHD dan Autisme yang Diterima di Usia Dewasa
Di balik kesibukannya, Lucy Bronze ternyata memiliki cara berpikir yang tidak pernah berhenti bekerja. Ia mengaku tidak betah menonton televisi karena tak bisa duduk diam, dan pikirannya selalu dipenuhi berbagai gagasan. Bahkan saat di dalam mobil, ia tidak mendengarkan musik atau podcast, melainkan membiarkan pikirannya berkelana ke mana-mana.
Diagnosis ADHD dan autisme yang baru ia terima di usia dewasa akhirnya membantu menjelaskan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Ibunya sebenarnya sudah lama menduga bahwa Bronze memiliki salah satu kondisi tersebut, sehingga kabar itu bukanlah kejutan besar. Rekan setimnya di timnas Amerika Serikat, Naomi Girma, bahkan sempat heran melihat Bronze berlatih keras di gym tanpa musik sama sekali.
Meski demikian, kondisi ini tidak pernah menjadi penghalang bagi Bronze untuk berprestasi. Justru energi tanpa batas yang ia miliki membuatnya mampu menjalani banyak peran sekaligus, mulai dari pemain, anggota dewan PFA, hingga duta kemanusiaan. Satu-satunya cara ia bersantai adalah berjalan-jalan bersama anjingnya, Nala, karena di luar itu ia hampir selalu sibuk dengan berbagai kegiatan dan bisnis baru.
Misi Kemanusiaan untuk Pengungsi Venezuela di Kolombia
Salah satu proyek yang paling dekat di hati Lucy Bronze adalah kunjungannya ke Kolombia bersama UNHCR untuk membantu para pengungsi Venezuela. Rencana ini sebenarnya sudah ia siapkan selama empat tahun, tetapi selalu tertunda karena ulah Sarina Wiegman yang khawatir perjalanan jauh akan mengganggu kondisi fisiknya. Pelatih timnas Inggris itu sempat memblokir rencana tersebut sebelum Piala Dunia dan Euro, dengan alasan khawatir Bronze terkena jet lag.
Kolombia sendiri sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang serius dengan sekitar 2,8 juta pengungsi dan migran Venezuela serta tujuh juta warga yang mengungsi di dalam negeri. Bronze mengaku pengalaman di lapangan sungguh di luar dugaannya, terutama saat bertemu anak-anak yang harus menjalani hidup sulit di usia yang sangat belia. Menurutnya, anak-anak itu tidak tahu mengapa mereka berada dalam situasi tersebut, padahal itu sama sekali bukan kesalahan mereka.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Bronze bertemu dengan seorang anak perempuan pengungsi yang menjadi kapten tim sepak bola yang semua anggotanya laki-laki. Bronze kemudian bercerita tentang Naomi Girma, yang orang tuanya juga mantan pengungsi, lalu memberikan kaus Girma kepada anak tersebut. Wajah anak itu langsung bersinar karena ia bisa melihat bayangan kehidupannya pada kisah Girma yang kini sukses membela timnas Amerika Serikat.
Bronze juga menyoroti bahwa krisis Venezuela-Kolombia jarang dibicarakan, meskipun kini mulai ada perhatian lebih setelah terjadi gempa di Venezuela. Menurutnya, perbedaan perlakuan ini terjadi karena pengungsi Venezuela hanya pindah ke Kolombia, bukan ke negara kaya seperti Inggris atau Jerman yang menjadi tujuan pengungsi Ukraina. Meski perjalanan itu menguras tenaga dan emosi, ia merasa sangat terkesan dengan ketangguhan anak-anak dalam menikmati hal-hal kecil. Ia pun mengaku hancur hatinya saat mendengar anak-anak berkata “bawa aku pergi” ketika rombongannya hendak pulang.
Chelsea di Era Sonia Bompastor Menuju Evolusi Baru
Setelah musim panas yang sibuk, Lucy Bronze kembali fokus menyambut musim baru bersama Chelsea yang mengalami banyak perubahan. Tim asuhan Sonia Bompastor tampil dengan skuad yang lebih muda dan penuh semangat setelah menjalani pramusim yang intens. Bronze menyebut Bompastor baru sekarang berhasil menyelesaikan berbagai hal yang diinginkannya di balik layar, termasuk menata staf kepercayaannya.
Bronze mengakui bahwa musim lalu Chelsea sempat kesulitan menemukan keseimbangan antara mempertahankan identitas sebagai tim yang dominan dan kebutuhan untuk terus berevolusi. Di paruh kedua musim, timnya terlalu bernafsu untuk menang sehingga justru kehilangan ritme permainan yang menjadi ciri khas mereka. Musim ini, ia berharap Chelsea bisa tampil lebih konsisten tanpa kehilangan mentalitas pemenang.
Kabar besar lainnya adalah keputusan Chelsea untuk memainkan seluruh laga Women’s Super League di Stamford Bridge, dimulai dengan laga melawan Aston Villa. Sementara itu, laga piala akan digelar di Cherry Red Records Stadium milik AFC Wimbledon. Bronze menyebut langkah ini sebagai pernyataan ambisi Chelsea untuk mendominasi sepak bola wanita, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di Eropa.
Ia menegaskan bahwa Chelsea tidak cukup hanya dengan memenangi liga enam kali berturut-turut, tetapi juga harus merebut trofi Liga Champions dan terus tumbuh sebagai tim. Menurut Bronze, semuanya saling terhubung, mulai dari cara bermain, orang-orang yang direkrut, hingga stadion yang mewakili ambisi besar klub. “Semua berkontribusi,” ujarnya.
Peran Lucy Bronze di Balik Layar Sepak Bola
Selain kesibukannya di lapangan, Lucy Bronze juga menjalani banyak peran di belakang layar yang berdampak besar bagi perkembangan sepak bola. Bersama Kim Little, ia aktif di dewan pemain PFA dan sering berdiskusi tentang cara memberikan kontribusi bagi generasi berikutnya. Bronze merasa banyak gagasan yang ingin ia wujudkan, meskipun waktu dan tenaga sering menjadi tantangan tersendiri.
Ia juga terlibat dalam berbagai bisnis dan proyek Fifpro serta UEFA yang menurutnya memberikan kepuasan tersendiri. Semua kesibukan itu, kata Bronze, justru memberinya energi karena ia selalu ingin mendorong pertumbuhan permainan ini. Baginya, keterlibatan di luar lapangan bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bagian dari tanggung jawabnya sebagai pemain senior yang ingin memberi kembali.
Dari ruang ganti hingga ruang rapat organisasi sepak bola, Lucy Bronze terus membuktikan bahwa dirinya adalah sosok yang tidak bisa berhenti bergerak. Ia memanfaatkan posisinya sebagai pemain top dunia untuk mendorong perubahan, baik di dalam maupun di luar lapangan. Dengan energi dan dedikasi yang ia miliki, suaranya akan terus menjadi bagian penting dari percaturan sepak bola global.
