Mimpi Amerika di Piala Dunia 2026: Masih Hidupkah?
Pelatih tim nasional Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, sejak Maret lalu terus menanamkan satu pertanyaan kepada para pemainnya: “Kenapa bukan kami?” Pertanyaan itu menjadi semacam slogan perjuangan yang bahkan terpajang di kantornya. Kini, setelah 21 hari turnamen berlangsung dan empat dari delapan laga menuju final telah dilalui, jawaban atas pertanyaan itu masih menggantung.
Kemenangan atas Bosnia-Herzegovina pada Rabu lalu di San Francisco Bay Area Stadium memang layak didapat. Hasil itu mengantarkan AS bertemu Belgia di Seattle pada Senin malam (Selasa dini hari WIB). Namun, kesuksesan tersebut harus dibayar mahal dengan kartu merah yang diterima Folarin Balogun.
Kartu Merah Folarin Balogun: Kecelakaan atau Bencana?
Balogun, mantan pemain muda Arsenal yang kini berusia 24 tahun, menjadi pahlawan di awal turnamen dengan dua gol kemenangan atas Paraguay. Pada laga melawan Bosnia, ia kembali memecah kebuntuan dengan gol ketiganya di Piala Dunia 2026 tersebut. Namun, kebahagiaan berubah drastis setelahnya.
Insiden terjadi saat Balogun berebut bola lambung di sisi kiri pertahanan Bosnia. Ia berusaha melindungi bola, namun bek Bosnia, Tarik Muharemovic, berhasil mendahuluinya. Saat Balogun menjejakkan kaki ke tanah, sepatunya mengenai pergelangan kaki Muharemovic hingga terpelintir parah. Wasit asal Brasil, Raphael Claus, setelah meninjau tayangan ulang super lambat, tak punya pilihan selain mengeluarkan kartu merah.
Dalam tayangan ulang biasa, insiden itu tampak sepenuhnya tidak disengaja. Namun, aturan ketat FIFA membuat keputusan wasit sulit diganggu. Balogun pun menjadi pemain AS ketiga yang mencetak tiga gol dalam satu edisi Piala Dunia, sekaligus pemain keempat dalam sejarah yang mencetak gol dan diusir dalam pertandingan knockout—bergabung dengan Garrincha (1962), Ronaldinho (2002), dan Zinedine Zidane (2006).
Apa Dampak Kartu Merah bagi Tim AS?
Akibat langsung dari kartu merah Folarin Balogun adalah larangan bermain satu pertandingan, yang secara otomatis membuatnya absen melawan Belgia. Lebih mengkhawatirkan lagi, FIFA bisa memperpanjang hukuman tersebut hingga mencoretnya dari perempat final dan semifinal jika AS lolos.
Tanpa Balogun, lini depan AS harus mengandalkan Ricardo Pepi, pemain PSV yang lama menjadi incaran Fulham. Namun, Pepi belum mencetak gol dalam 184 menit bermain di turnamen ini, juga dalam empat laga uji coba sebelumnya. Gol terakhirnya untuk tim nasional terjadi pada November 2024 di ajang Nations League. Ini menjadi tantangan besar bagi pelatih Pochettino untuk meracik strategi tanpa pencetak gol terbanyak tim.
Semangat Tim: ‘One Man Down, The Next Steps Up’
Bek AS, Chris Richards, menegaskan bahwa tim tetap solid mendukung Balogun. “Kami bilang padanya, kami di belakangnya. Kami adalah tim yang terdiri dari 26 pemain, bukan hanya satu orang. Meski kami akan merindukannya di laga berikutnya, siapa pun yang turun pasti akan melakukan tugasnya dengan baik. Ini akan membuat kami lebih kuat,” ujar pemain Crystal Palace itu.
Sementara itu, Pochettino menambahkan, “Saat Balogun mendapat kartu merah, saya melihat mata para pemain berkata, ‘Pelatih, kami siap bertarung.’ Itu luar biasa. Para pemain ini sedang membangun warisan di negeri ini. Dengan dukungan fans yang luar biasa, semuanya mungkin. Kenapa bukan kami?”
Mantan pemain Inggris, Sue Smith, menilai kartu merah justru menyatukan tim AS. “Setelah Balogun diusir, kami melihat sisi profesional sejati dari AS. Pertahanan mereka rapi, Bosnia sudah mencoba segalanya tapi tak bisa mencetak gol. Kemenangan itu pantas. Saya pikir mereka telah mengejutkan banyak orang dengan permainan mereka sejauh ini. Mereka pasti akan memberi perlawanan sengit kepada Belgia,” komentar Smith di BBC One.
Kesimpulan: Bisakah AS Bertahan Tanpa Balogun?
Kartu merah Folarin Balogun jelas menjadi pukulan telak bagi ambisi AS di Piala Dunia 2026. Namun, kekompakan tim dan keyakinan yang ditanamkan Pochettino bisa menjadi faktor pembeda. Pertandingan melawan Belgia akan menjadi ujian sejati: apakah tanpa mesin gol utama, AS masih mampu melaju? Jawabannya akan terlihat di Seattle, namun satu hal pasti—para pemain AS masih percaya pada mimpi mereka. Kenapa bukan mereka?
