Kekalahan Pahit dari Paraguay di Babak 32 Besar
Jerman kembali menelan pil pahit di Piala Dunia 2026. Setelah sukses melewati fase grup, langkah Die Mannschaft harus terhenti lebih awal dari yang diharapkan. Mereka kalah adu penalti 3-4 dari Paraguay setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu. Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 ini sontak memicu badai kritik, terutama kepada pelatih Julian Nagelsmann.
Media Jerman, seperti harian Bild, menyebut kekalahan ini sebagai “mimpi buruk sepak bola Jerman berikutnya”. Padahal, di atas kertas Jerman berada di peringkat 10 FIFA, jauh di atas Paraguay yang duduk di posisi 41. Namun, penguasaan bola hingga 75% tidak cukup untuk membongkar pertahanan rapat lawan.
Gol pembuka Paraguay dicetak oleh mantan pemain Brighton dan Ipswich, Julio Enciso. Kai Havertz sempat menyamakan kedudukan dengan sundulan di awal babak kedua. Namun, gol Jonathan Tah dianulir kontroversial dan akhirnya Jerman harus mengakui keunggulan lawan lewat adu penalti — untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka kalah adu penalti di Piala Dunia.
Masa Depan Julian Nagelsmann di Ujung Tanduk
Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 membuat posisi Julian Nagelsmann semakin genting. Pelatih yang pernah membawa Bayern Munich juara Bundesliga ini mengambil alih timnas pada 2023 dan hanya mampu menembus perempat final Euro 2024 di kandang sendiri. Kini, dengan tersingkir lebih awal di Amerika Utara, tuntutan agar Nagelsmann mundur semakin keras.
Bek legendaris Jerman, Arne Friedrich, dengan tegas mengatakan di BBC Radio 5 Live: “Nagelsmann harus menghadapi konsekuensinya. Ini sangat mengecewakan, tapi itulah olahraga. Saya rasa perjalanannya bersama timnas harus berakhir.” Senada dengan itu, Thomas Hitzlsperger menambahkan bahwa performa Nagelsmann dalam beberapa bulan terakhir tidak cukup baik untuk tetap dipertahankan.
Meski demikian, Nagelsmann sendiri enggan menyerah. “Saya bukan tipe orang yang lari dari tanggung jawab,” ujarnya dalam konferensi pers usai pertandingan. “Jika federasi masih menginginkan saya, saya akan terus bekerja.” Namun, ia sadar banyak pendukung yang kecewa dan menginginkan perubahan.
Tekanan dari Publik dan Sosok Jurgen Klopp
Nama Jurgen Klopp mulai mencuat sebagai kandidat pengganti setelah komentarnya di televisi Jerman yang mengkritik pendekatan Nagelsmann. Sebelum melawan Paraguay, Klopp sudah menyoroti “metode yang salah” saat Jerman kalah dari Ekuador. Banyak penggemar di media sosial mendesak agar mantan pelatih Liverpool itu segera mengambil alih timnas.
Apa yang Salah dengan Timnas Jerman?
Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 bukanlah insiden mendadak. Sejak menjuarai Piala Dunia 2014, Jerman dua kali gagal lolos dari fase grup (2018 dan 2022) dan sekarang tersingkir di babak knockout pertama. Hitzlsperger mengidentifikasi masalah mendasar: “Pola pengembangan pemain di Jerman terlalu fokus pada passing dan taktik, tetapi kehilangan sisi agresif dan fisik.”
Menurutnya, tim seperti Argentina menjadi contoh sempurna karena memiliki kombinasi kualitas teknis dan “ketajaman” (edge) yang membuat lawan segan. “Kami tidak lagi ditakuti lawan. Mereka menghormati, tapi tidak takut,” keluhnya. Padahal, dulu Jerman dikenal sebagai tim yang sulit dikalahkan karena mentalitas juara dan fisik yang tangguh.
Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan ketergantungan berlebihan pada penguasaan bola tanpa efektivitas di lini depan. Dari tiga gol yang dicetak di fase grup, dua di antaranya terjadi saat melawan Curacao yang notabene tim lemah. Saat berhadapan dengan lawan yang disiplin seperti Paraguay, Jerman kesulitan menciptakan peluang emas.
Komentar Para Legenda dan Analis Sepak Bola
Jurnalis sepak bola Jerman, Raphael Honigstein, memberikan kritik pedas. “Jika saya sinis, sebenarnya yang kami dapat hanyalah hak untuk dihancurkan oleh Prancis,” ujarnya. “Tersingkir di babak ini masih bisa diterima, tapi tidak dengan cara seperti ini — kalah dari Paraguay. Ini bukan kekalahan tanpa dampak.”
Ia juga menyoroti banyak keputusan besar Nagelsmann yang meleset selama turnamen. Honigstein memperkirakan masa depan pelatih berusia 37 tahun itu akan segera berakhir. “Saya khawatir, ini sudah tamat baginya.”
Haruskah Federasi Segera Ambil Tindakan?
Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 menempatkan DFB (Asosiasi Sepak Bola Jerman) dalam posisi sulit. Di satu sisi, Nagelsmann memiliki kontrak hingga 2026. Di sisi lain, tekanan dari publik dan media sangat besar. Jika federasi ingin mempertahankan tren positif jangka panjang, mereka harus mempertimbangkan apakah Nagelsmann masih orang yang tepat untuk membangun kembali identitas timnas.
Satu hal yang jelas: Jerman tidak lagi dianggap sebagai tim elite. Untuk bangkit kembali, perubahan fundamental — mulai dari pembinaan usia muda hingga filosofi permainan — perlu dilakukan. Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2026 bisa menjadi titik awal pembenahan, atau justru awal dari keterpurukan yang lebih panjang.
