Nketiah Bawa Crystal Palace Menang, Sage Dapat Ruang Napas

Crystal Palace meraih kemenangan penting 1-0 atas Fulham di Craven Cottage pada laga Piala Carabao. Gol Eddie Nketiah di babak pertama menjadi pembeda dan membawa Palace ke perempat final untuk ketiga kali berturut-turut. Hasil ini juga memberi Pierre Sage ruang napas di tengah tekanan yang meningkat.

Kemenangan tersebut terasa kian berarti karena Arsenal, tim yang mengalahkan Palace pada dua kesempatan sebelumnya di kompetisi ini, sudah tersingkir. Meski demikian, posisi Sage belum sepenuhnya aman karena laga melawan Tottenham pada Sabtu dinilai lebih menentukan masa depannya. Palace sendiri akan kembali bermain di Piala Carabao menghadapi Sunderland pada pertengahan Desember.

Gol Nketiah Menentukan Hasil di Craven Cottage

Fulham sebenarnya memulai laga dengan lebih dominan. Selama 30 menit pertama, Crystal Palace tidak mencatat satu pun sentuhan di kotak penalti lawan dan hanya menguasai bola sekitar 22 persen. Tekanan tuan rumah nyaris berbuah pada beberapa peluang, termasuk sundulan Kenny Tete yang melebar dari situasi sepak pojok.

Dean Henderson, yang kembali setelah sebulan absen, menjadi penghalang penting bagi Fulham. Ia menyelamatkan peluang Antonee Robinson di tiang jauh dengan kaki, sementara Joachim Andersen gagal memanfaatkan peluang lain dari sepak pojok. Andersen seharusnya bisa berbuat lebih baik, tetapi bek Denmark itu tidak mampu mengarahkan bola ke sasaran melawan klub lamanya.

Di tengah tekanan itu, Palace justru mencetak gol lewat serangan yang efektif. Óscar Mingueza mendapat ruang di sisi kanan dan mengirim umpan silang tepat yang diselesaikan Nketiah dengan voli apik. Pendukung Fulham nyaris tidak percaya setelah dominasi mereka, lalu Henderson menutup laga dengan penyelamatan penting di masa tambahan waktu dari peluang Gonzalo García. Tekanan itu berujung cemoohan pendukung tuan rumah saat peluit akhir.

Setelah memimpin, Palace sempat nyaris dihukum ketika Honest Ahanor kehilangan bola di tepi kotak penalti, tetapi tembakan Rodrigo Muniz terlalu lemah. Fulham terus menekan dan sempat menciptakan peluang yang layak lewat sundulan Iwobi, namun Jefferson Lerma dan Henderson berhasil membersihkan bola di garis gawang. Peluang terakhir Palace lewat Daichi Kamada dan Dwight McNeil juga hampir memperlebar keunggulan saat Fulham terbuka mencari gol penyeimbang.

Rotasi Besar Sage dan Agenda Tottenham

Sage memilih melakukan 10 perubahan setelah jadwal padat Palace. Sebelumnya, Palace harus melawat ke Istanbul untuk bermain imbang melawan Besiktas di Liga Europa, lalu kalah dari Newcastle di kandang tiga hari berselang. Chris Richards menjadi satu-satunya pemain yang mempertahankan tempat di starting XI.

Keputusan itu tak lepas dari laga di Tottenham pada Sabtu yang disebut bisa menentukan masa depan Sage. Dengan kondisi fisik yang terkuras, ia perlu menjaga sejumlah pemain utama tetap segar untuk laga di London utara tersebut. Meski tampil dengan tim lapis kedua, Palace tetap mampu memanfaatkan peluang kunci lewat gol Nketiah.

Di sisi lain, Cheick Doucouré menjalani penampilan senior pertamanya di lini tengah sejak Januari 2025 setelah rangkaian masalah cedera. Kondisi itu membuat Palace terlihat kurang tajam di berbagai lini, terutama saat harus menahan gempuran Fulham. Namun, mereka tetap memperlihatkan efisiensi yang menjadi ciri penting dalam hasil ini.

Fulham Dominan, tetapi Masalah Klinis Masih Berulang

Bagi Fulham, kekalahan ini menjadi kemunduran setelah beberapa pekan yang menunjukkan kemajuan. Arbeloa menilai timnya mengulang masalah lama karena tidak mampu memaksimalkan peluang. “Ceritanya sama—kami harus belajar lebih klinis,” kata Arbeloa. “Ini malam yang sangat membuat frustrasi bagi semua orang.”

Kemenangan 1-0 atas Hull dan Coventry di Premier League sempat mengurangi tekanan pada Arbeloa. Namun, ia tetap kecewa karena tim yang dirotasi, meski tetap diperkuat sejumlah pemain kunci, tidak bisa memanfaatkan peluang. Persoalan ketajaman itu disebut semakin menjadi tema berulang di bawah asuhan pelatih asal Spanyol tersebut. Saat Arbeloa memasukkan Josh King, tribun menyambut dengan sorakan besar, tetapi perubahan itu belum mampu mengubah hasil.

Catatan kandang juga tidak berpihak kepada Fulham. Mereka belum mengalahkan Palace di Craven Cottage sejak Januari 2005, rentetan 10 pertandingan yang memperlihatkan dominasi Palace di laga tandang. Arbeloa setidaknya bisa sedikit lega karena Fulham tidak perlu lagi menghadapi Palace pada musim ini.

Dampak bagi Crystal Palace dan Fulham

Kemenangan ini membawa Crystal Palace ke perempat final untuk ketiga kali berturut-turut dan menyimpan peluang tampil di Wembley. Kemenangan ini juga menjadi yang kelima atas Fulham di Craven Cottage dalam 18 bulan, dan para pendukung Palace menyanyikan “bisakah kami melawan kalian setiap pekan?” untuk merayakannya. Di sisi lain, tersingkirnya Arsenal membuat jalur Palace di kompetisi ini terasa sedikit lebih terbuka.

Bagi Fulham, hasil ini menambah tekanan untuk segera memperbaiki penyelesaian akhir. Arbeloa butuh solusi karena dominasi tanpa gol tidak akan membantu tim meraih hasil di laga-laga ketat. Sementara itu, Sage masih harus menghadapi ujian lebih besar di Tottenham sebelum bisa benar-benar tenang.

Perbandingan nasib kedua tim terlihat jelas sejak Palace menang 3-2 di Craven Cottage pada awal September. Sejak itu, Palace dan Fulham bergerak ke arah berbeda, meski Fulham sempat bangkit lewat dua kemenangan liga. Laga ini menunjukkan bahwa efisiensi di depan gawang masih menjadi pembeda utama.

Fans Palace, Protes Tiket, dan Koneksi dengan Tim

Sage meninggalkan lapangan sambil meniup ciuman ke arah istrinya di tribun, tetapi ia juga memuji dukungan suporter tandang. Ia menegaskan hubungan antara tim dan penggemar membaik ketika para pemain berjuang di lapangan. “Saya menyukai para penggemar, tetapi saya mencintai istri saya,” ujar Sage dalam sindiran ringan. “Semua penggemar benar-benar mendukung kami—mereka senang ketika tim bermain seperti ini,” tambahnya.

Dukungan itu datang di tengah rencana protes sebelum laga kandang berikutnya melawan Liverpool. Sebagian pendukung mempersoalkan kenaikan harga tiket dan strategi klub yang dinilai lebih memprioritaskan turis daripada penggemar rutin. Mereka juga menyoroti kebiasaan memutar musik keras sebelum kick-off dan saat turun minum sebagai bagian dari keluhan.

Meski Palace tampil dengan formasi rotasi, suporter tandang terus bersuara sepanjang laga. Mereka tetap mendukung tim ketika para pemain kesulitan menghadapi Fulham yang tampil percaya diri. Kemenangan ini pun terasa seperti pembayaran atas kesetiaan tersebut.

Kesimpulan

Gol Eddie Nketiah membuat Crystal Palace mencuri kemenangan di Craven Cottage dan melanjutkan langkah mereka di Piala Carabao. Fulham boleh mendominasi penguasaan bola, tetapi masalah penyelesaian akhir kembali membuat mereka kehilangan poin. Bagi Sage, tiga poin ini memberi ruang bernapas, bukan jaminan penuh.

Ujian sesungguhnya tetap menanti di Tottenham, sementara Fulham harus segera menemukan cara agar dominasi berubah menjadi gol. Dalam sepak bola yang sering ditentukan oleh detail kecil, penyelamatan Henderson dan voli Nketiah menjadi pengingat bahwa efisiensi bisa mengalahkan penguasaan bola. Kemenangan ini juga menjaga koneksi Palace dengan suporter, setidaknya untuk satu malam. Betapa besar perbedaan yang bisa terjadi dalam beberapa hari.