Setelah dipaksa meninggalkan rumahnya sendiri, Rayo Vallecano akhirnya kembali ke Estadio de Vallecas pada Sabtu pukul 14.00 waktu setempat, dan Sergio Camello adalah wajah dari momen itu. Penyerang tersebut kini menempati posisi pencetak gol terbanyak kedua di lima liga terbesar Eropa dengan tujuh gol dari tujuh pertandingan, catatan terbaik yang pernah ia capai sejak berkarier di primera.
Kepulangan Rayo bukan perkara sederhana. Dewan Kota Madrid menyatakan Estadio de Vallecas tidak aman dan tidak layak digunakan, sehingga laga-laga kandang klub harus digelar di Leganés, di luar kota ke arah selatan, dan sebagian suporter memilih memboikotinya sebagai bentuk protes. Di tengah situasi yang tidak nyaman itu, Camello justru menjalani musim paling produktif dalam kariernya.
Sergio Camello dan Kembalinya Rayo Vallecano ke Vallecas
Di Jalan Fofó el Clown, jantung kawasan Vallecas, sebuah VW Beetle bekas berusia 11 tahun dengan odometer lebih dari 300.000 kilometer menepi. Musik di dalamnya dimatikan — The Smiths dibungkam — dan keluarlah Sergio Camello: penggemar film yang telah mengulas 156 judul, fotografer paruh waktu, sesekali pemain drum, peraih medali emas Olimpiade, sekaligus pencetak gol terbanyak kedua di lima liga utama Eropa.
Pemandangan di sekitarnya berbicara banyak tentang tempat itu. Dinding-dindingnya penuh grafiti, stiker menutupi kaca di antara jeruji besi berwarna merah, dan hanya ada satu anak tangga dari jalan menuju pintu kecil ke markas Rayo Vallecano — pintu yang saat itu masih terkunci. Namun 64 jam kemudian, pintu itu akan terbuka untuk pertama kalinya musim ini. “Ini rumah saya, ini Vallecas,” kata Camello.
Kalimat itu bukan sekadar retorika. Klub terpaksa meninggalkan kandangnya sendiri, dan laga kandang pun harus dimainkan jauh dari kota, di wilayah yang membuat sebagian fans enggan datang. Camello mengaku tidak sabar menunggu hari itu tiba, dan alasannya bukan semata soal sepak bola. “Itu soal sebelum pertandingan, sesudah pertandingan, orang-orangnya,” ujarnya sambil melewati bar tempat orang-orang akan menunggunya setelah laga, sama seperti biasanya.
Tujuh Gol dalam Tujuh Laga dan Julukan Pichichi
Meski begitu, sepak bolanya juga sedang bagus — mungkin yang terbaik sepanjang kariernya. Dari seluruh liga utama di benua Eropa, hanya Raphinha yang mencetak lebih banyak gol daripada tujuh gol Camello dalam tujuh pertandingan. Camello sendiri mengaku belum pernah berada dalam kondisi seperti ini sebelumnya.
“Saya berusaha tidak memikirkannya, tapi rekan-rekan setim terus mengingatkan,” katanya. Mereka memanggilnya Pichichi atau “Si Tukang Film”. Pichichi adalah nama striker legendaris Athletic Club yang kini diabadikan sebagai nama trofi top skorer di Spanyol, sebuah julukan yang jelas membawa ekspektasi tersendiri.
Camello tidak menganggapnya sebagai beban. “Tidak ada tekanan, saya menyukainya,” ujarnya, “dan saya suka mereka menikmatinya.” Dua bulan berjalan, ini sudah menjadi kampanye terbaiknya di primera, setelah pada musim-musim sebelumnya hanya mencatat lima, tiga, dan tiga gol.
Ada faktor taktik dalam lonjakan ini: pelatih baru Beñat San José mengubah pola pergerakannya di lapangan. Namun bagi Camello, penjelasan taktis tidak cukup. Ia mencari jawaban yang lebih dalam, dan menemukannya di dalam dirinya sendiri — titik awal percakapan yang tenang, terperinci, dan jujur tentang banyak hal.
Tekanan, Terapi, dan Kembali ke Anak yang Dulu
Camello termasuk jenis pesepak bola yang jarang ditemui. Ia bersedia berbicara soal materialisme, rasisme, homofobia, media sosial yang ia sebut “racun”, hingga krisis perumahan. Keberanian memakai platformnya itu, katanya, lahir dari didikannya dan juga dipelajari dari hidup di barrio.
Namun kali ini ia membicarakan sesuatu yang personal sekaligus universal. Perubahan besar yang ia rasakan terletak pada cara ia masuk ke lapangan. “Saya pikir akan jauh lebih sulit mengubah pola pikir saya, tapi ternyata saya bisa menjadi diri sendiri: bebas, terhubung dengan Sergio yang bisa saya berikan untuk Rayo,” ujarnya. “Merasa terbebas, menikmatinya — dan sudah lama sekali saya tidak menikmati semua ini seperti sekarang.”
Langkah pertamanya adalah berbicara banyak dengan teman-teman yang benar-benar mengenalnya, terutama saudara kembarnya, Gonzalo. “Ada koneksi yang melampaui sisi manusiawi,” kata Camello. Gonzalo bisa melihat bahwa ia tidak menikmati permainan dan tidak menjadi dirinya sendiri, lalu mereka berbicara panjang dan ia mencoba membawa hasilnya ke atas lapangan.
Yang ia kejar terutama adalah bermain tanpa tekanan. Bagi Camello, tekanan adalah hal yang mengerikan: ia membuat seseorang tidak bisa menikmati apa pun, menempatkannya pada posisi di mana kegagalan berujung frustrasi, frustrasi berubah menjadi rasa kasihan pada diri sendiri, dan tiba-tiba semuanya terasa negatif. Terapi juga membantunya, khususnya gagasan untuk kembali terhubung dengan anak kecil yang dulu memilih sepak bola karena itu yang paling membuatnya bahagia — jauh sebelum olahraga itu menjadi pekerjaan.
Yang bisa hilang bukan hanya kegagalan yang harus dijalani, tetapi juga kesuksesan. “Tekanan bisa datang dari mana saja,” kata Camello. Menurutnya, pemain masih muda, perubahan terjadi begitu cepat, dan tidak ada yang mempersiapkannya menghadapi itu. Jika tidak mampu mengelolanya, dampaknya bisa merusak — dan hal itu pernah terjadi padanya ketika ia sempat paranoid serta terobsesi pada pikiran bahwa orang-orang sedang memperhatikannya.
Ia mengenang hari pertama di primera ketika ia mencetak gol. Perjalanan menuju stadion berlangsung biasa — skuter, bus, metro, bus — tetapi di perjalanan pulang beberapa anak mengikutinya sambil meneriakkan namanya. Itu membuatnya kaget. Malam ketika ia kembali dari Olimpiade, ia berada di bar biasa, orang-orang berkerumun, dan ia mengalami semacam serangan kecemasan hingga harus pergi. “Saya ini Sergio Camello, orang biasa dari tim sederhana. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di level Lamine Yamal. Saya tidak iri.”
Meski begitu, ia menekankan pentingnya melihat keseimbangan. Sepak bola telah memberinya begitu banyak, sementara banyak orang tidak bisa menikmati pekerjaannya atau memiliki kebebasan finansial. Ketika momen buruk datang dan lingkaran negatif terasa, ia memilih untuk berbicara.
Pelajaran dari Seorang Musisi di Wizink Centre
Camello memandang ke seisi ruangan: sunyi, 25 kursi kosong. Ia bercerita tentang sahabatnya, Dani Fernández, musisi yang bersiap menggelar empat pertunjukan sold out di Wizink Centre. Ketika mereka pertama bertemu, kata Camello, Dani belum tentu sanggup memenuhi ruangan sekecil itu.
Keduanya “terjebak” dalam situasi serupa pada waktu yang hampir bersamaan dan banyak berbicara satu sama lain. Ketika Dani ragu, Camello ada; begitu pula sebaliknya. “Seperti obor di kegelapan,” ujarnya.
Bagi Camello, mendengar langsung dari seseorang yang ia kagumi tentang betapa beratnya kehidupan di balik panggung memberi perspektif baru. Jika di tempat yang ia idealisasikan pun ada kegelapan, kesepian, dan kesulitan, mungkin keadaannya tidak seburuk yang ia pikirkan. Percakapan semacam itu membuatnya sadar betapa beruntungnya ia, meski ia mengakui bahwa keraguan soal sepak bola jarang dibahas sedalam itu di ruang ganti, karena bagi banyak rekan setimnya sepak bola adalah hal terpenting di dunia.
Rayo Vallecano, Sepak Bola dari Zaman Lain
Masalah yang dihadapi klub ini signifikan dan melemahkan, dan Camello menegaskan hal itu tidak perlu diromantisasi. Namun entah bagaimana, Rayo berhasil membangun kesuksesan lewat solidaritas. Ia juga menegaskan bahwa para pemain ada di sana karena memang ingin berada di sana.
Ada sesuatu dari Rayo, dan dari keputusan keluar dari gelembung, yang menurutnya baik untuk dirinya dan untuk semua orang, sebagai manusia maupun pemain. Ia mengakui bahwa menjadi pesepak bola membuat seseorang mudah “menjadi brengsek” — istilahnya sendiri. Namun sifat itu meredup di klub yang bukan hanya berada di barrio, melainkan milik barrio.
Di tempat seperti itu, kaki terasa lebih menapak ke tanah dan pemain menyadari bahwa mereka bukan bintang. “Rayo adalah tim terakhir yang bertahan dari sepak bola zaman lain, itu yang saya suka,” kata Camello. Hanya dengan memarkir mobil di jalan tepat di depan stadion pun, segalanya terasa berbeda: wajah-wajah yang selalu sama, setiap kali.
Ia menyebut hal paling tidak penting dari sepak bola di Rayo adalah sepak bolanya itu sendiri. Yang lebih berarti adalah apa yang diperjuangkan klub setiap akhir pekan, apa yang diyakini orang-orangnya, dan koneksi yang terbangun di sekitarnya. Ia menyebut Isi di bar sudut jalan, Unai dan kawan-kawan di bar bawah sana, serta bar yang biasa mereka datangi bersama. Menurutnya, hal seperti itu tidak ada di tempat lain: orang-orang yang setengah jam sebelumnya ia saksikan bermain, kini duduk di bar yang sama. Dari situ ia membangun hubungan tulus yang tidak pernah ia duga, dan ia menggambarkan dirinya sebagai orang biasa yang mewujudkan mimpinya serta mimpi banyak anak — seperti superhero yang memakai topeng, datang, mengenakan kostum, dan menjadi pribadi paling kompetitif serta profesional, lalu melepas semuanya begitu keluar.
Kamera, Drum, dan Musik yang Menjadi Pelarian
Ada pelarian dan tempat berlindung dalam hal-hal lain. Dalam kamera. Dalam les drum yang diakuinya berjalan lambat, dan gitar yang sudah ia tinggalkan — kemampuan yang dianugerahkan pada kakinya tidak diberikan pada jari-jarinya. Semua itu bertemu dengan musik indie rock yang pertama kali ia dengar di mobil keluarga dan kemudian ia syukuri lewat teman-teman musisi yang ia kenal.
Musik itu juga menghadirkan gesekan kecil di ruang ganti. Rekan-rekan setimnya yang menyukai reggaeton menguasai stereo yang menggelegar setiap pagi. Sambil tertawa, Camello menyebut mereka heran kenapa ia tidak begitu bersemangat pergi ke gym.
Action for Music dan Mimpi Sekolah Musik di Vallecas
Musik juga bisa membuat perbedaan nyata. Jika ada hal yang mampu menggerakkan dan menyentuh orang seperti sepak bola, mungkin hanya musik. “Ada sesuatu yang sudah lama ingin saya lakukan dan ini sangat menyenangkan,” kata Camello.
Ia bergabung dengan lembaga amal Action for Music, yang memberi kesempatan kepada anak-anak di lingkungan sederhana untuk belajar musik. Anak-anak itu mengikuti empat jam kelas setiap pekan: perkusi, alat musik gesek, dan alat musik tiup. Tidak ada satu euro pun yang dibayar — ruang, guru, dan instrumen semuanya gratis. Lembaga ini memiliki sekolah di Tetuán dan Carabanchel, dan Camello ingin mendirikan sekolah serupa di Vallecas tahun depan. “Hanya saja saya akan melakukannya dengan cara saya … pakai rock,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia sempat mengikuti satu sesi bersama mereka, mencoba bermain drum setelah enam bulan belajar. Ada seorang anak yang memainkan saksofon, dan Camello terkesan pada vibrasi serta kegembiraan yang terpancar dari anak itu. Menurutnya, ketika seseorang tidak tahu harus ke mana, ada tempat dan orang yang percaya padanya serta memberi kesempatan. Empat puluh anak dengan stik drum, gitar, atau saksofon di tangan bisa mendapatkan begitu banyak hal: tahu bahwa mereka bisa mahir dalam sesuatu, merasa baik tentang diri sendiri, bersenang-senang, dan mungkin menemukan sesuatu di dalam diri yang tidak mereka sadari.
Ia bahkan sudah membayangkan konser di Wizink. “Saya bisa jadi manajer mereka,” candanya. Idenya adalah menggelar konser di akhir setiap tahun: anak-anak yang datang ke kelas pertama, lalu berdiri di atas panggung dengan instrumen, keluarga mereka hadir, orang-orang membeli tiket untuk menonton, dan tepuk tangan pun datang. Perasaan bahwa “saya berharga” — sesuatu yang menurut Camello mirip dengan mencetak gol.
Penutup: Perasaan yang Sama di Gawang dan di Atas Panggung
Bagi Sergio Camello, mencetak gol dan membayangkan anak-anak Vallecas memegang alat musik bermuara pada perasaan yang sama. “Saya tetap orang yang sama seperti ketika saya belum mencetak gol,” ujarnya. Namun pada momen ketika bola masuk ke gawang, stadion berdiri bersamaan, dan semua orang bersorak, segalanya terasa masuk akal: ia merasa penting, merasa mampu melakukan sesuatu dengan baik.
Yang jelas, ada satu momen lain yang ia nantikan dalam waktu dekat. Sabtu pukul 14.00, ketika pintu kecil di Jalan Fofó el Clown akhirnya terbuka dan Rayo Vallecano kembali bermain di rumahnya sendiri — di tengah orang-orang yang selalu menunggunya di bar yang sama.
