Manajer Republik Irlandia, Heimir Hallgrímsson, meminta UEFA agar tidak lagi mempertemukan timnya dengan Israel dalam undian turnamen berikutnya. Desakan itu ia sampaikan setelah dua pertemuan Irlandia vs Israel di Nations League yang berlangsung panas, termasuk laga kedua yang berakhir imbang 1-1 di TSC Arena, Backa Topola, Serbia, Minggu lalu, tanpa kehadiran penonton.
Menurut pelatih asal Islandia itu, dua pekan terakhir terasa berat bukan hanya bagi para pemain, tetapi juga seluruh staf yang terlibat. Laga pertama di Debrecen, Hungaria, dimenangkan Irlandia dengan skor 3-0, sementara laga kedua penuh ketegangan di dalam maupun di luar lapangan. Sejumlah insiden membuat duel ini berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan poin di Grup B3.
Desakan Hallgrímsson kepada UEFA
Hallgrímsson secara terbuka menilai bahwa kedua negara sebaiknya tidak dipertemukan lagi di masa depan. Ia mengaku tidak ingin ada tim nasional mana pun mengalami situasi yang ia dan skuadnya alami selama dua pekan terakhir, dan menegaskan bahwa keputusan semacam itu berada di tangan UEFA sebagai otoritas sepak bola Eropa.
“Tidak, seharusnya tidak. Itu bukan keputusan kami, itu urusan UEFA. Saya tidak ingin tim nasional mana pun melewati apa yang kami alami dua pekan ini. UEFA perlu turun tangan dan melakukan sesuatu,” ujarnya kepada RTÉ.
Ia juga menyampaikan bahwa timnya butuh waktu untuk merenung sebelum melangkah ke depan. Dengan gaya khasnya, Hallgrímsson menyebut momen sulit justru memperlihatkan siapa yang benar-benar mendukung dan siapa yang ikut menendang ketika seseorang sedang terjatuh — perumpamaan yang ia pakai untuk menggambarkan beratnya tekanan yang dihadapi skuadnya selama dua pertemuan tersebut.
Jalannya Laga Irlandia vs Israel di Backa Topola
Di atas lapangan, Irlandia sebenarnya lebih dulu unggul melalui penalti Troy Parrott pada menit ke-39. Penalti itu diberikan setelah wasit meninjau tayangan video assistant referee (VAR) yang berlangsung cukup lama, menyusul pelanggaran terhadap Jimmy Dunne saat kiper Israel, Assaf Tzur, berusaha menutup ruang. Gol tersebut menambah koleksi Parrott menjadi 10 gol dalam tujuh pertandingan internasional kompetitif terakhirnya.
Keunggulan itu tidak bertahan lama. Dua menit setelah babak kedua dimulai, Dor Peretz menyamakan kedudukan. Prosesnya berawal dari sepakan Oscar Gloukh yang membelok mengenai Liam Scales dan mengarah ke kapten Israel tersebut, yang kemudian menyelesaikannya dengan tembakan rendah tanpa memberi peluang bagi kiper Irlandia, Caoimhín Kelleher.
Kelleher sendiri tampil sebagai kapten karena Dara O’Shea mendapat izin mendampingi istrinya yang melahirkan. Ia menjalani formalitas sebelum pertandingan dengan wasit dan salah satu asisten, namun dengan sengaja tidak menyalami Peretz. Sikap itu mengulang apa yang dilakukan O’Shea sebelum laga pertama di Debrecen, ketika ia menolak berjabat tangan dengan Manor Solomon.
Para pemain Irlandia kembali mengenakan ban lengan hitam dan menundukkan kepala saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan. Pemain Israel juga memakai ban lengan hitam untuk mengenang korban tewas dalam serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Kronologi: Laga Dipindah dari Dublin ke Venue Netral
Pertandingan ini sejatinya dijadwalkan berlangsung di Dublin. Namun, Football Association of Ireland (FAI) memindahkannya ke venue netral pada Juni dengan alasan “operasional”, setelah muncul seruan luas untuk memboikot laga tersebut sebagai bentuk protes atas tindakan Israel di Gaza. FAI juga memutuskan pertandingan digelar tanpa penonton sama sekali.
Keputusan itu menyusul mosi yang diajukan FAI pada November, yang mendesak UEFA melarang Israel tampil di kompetisi klub maupun internasional. Dengan demikian, ketegangan di Backa Topola bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba, melainkan puncak dari rangkaian sikap politik dan diplomatik yang sudah terbangun sejak jauh sebelum bola digulirkan.
Pada laga pertama di Hungaria, Irlandia menang 3-0 lewat tiga gol di babak pertama, dan insiden penolakan jabat tangan sudah terjadi. Israel kemudian melakukan perubahan komposisi untuk laga kedua: Solomon diturunkan ke bangku cadangan, sementara penyerang Sayed Abu Farchi kembali masuk skuad setelah menjalani hukuman kartu merah akibat selebrasinya saat Israel kalah 3-1 dari Austria bulan sebelumnya. Adapun Finn Azaz, pemain yang memiliki darah Israel dari ibunya, masuk daftar pemain pengganti Irlandia setelah menjadi starter melawan Austria pada Kamis.
Ketegangan di Terowongan dan Bantahan Federasi Israel
Suasana panas antara kedua tim meluas ke luar lapangan. Ketika para pemain memasuki terowongan pada jeda babak, terjadi perselisihan, dan Hallgrímsson memilih tidak berkomentar mengenai insiden tersebut karena menilai hal itu lebih tepat diserahkan kepada komite disiplin. Seorang anggota stafnya dilaporkan mengaku diludahi oleh pemain Israel — pihak yang dimaksud disebut sebagai pelatih kebugaran Damian Doyle.
Pada Senin, juru bicara Federasi Sepak Bola Israel membantah ada pemain yang meludah “ke arah pelatih” tersebut. Pihaknya juga menyatakan bahwa impian mereka tetap bermain melawan Irlandia di Dublin pada Euro 2028. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Israel tidak berniat menghindari pertemuan serupa, berbeda jauh dari sikap Hallgrímsson yang justru meminta UEFA mencegahnya.
Petugas sempat melerai perselisihan kedua pada waktu tambahan, dan setelah peluit akhir masih ada pertukaran kata-kata panas antara kedua kubu. Rangkaian kejadian itu menegaskan bahwa laga ini tidak pernah benar-benar selesai ketika wasit meniup peluit panjang.
Dampak bagi UEFA dan Konteks yang Lebih Luas
Permintaan Hallgrímsson menempatkan UEFA dalam posisi yang tidak nyaman. Di satu sisi, undian kompetisi harus dijalankan berdasarkan prinsip netralitas dan aturan yang berlaku umum. Di sisi lain, dua pertemuan berturut-turut memperlihatkan bahwa aspek keamanan, psikologis, dan disipliner bisa menjadi beban besar bagi tim yang terlibat — bahkan ketika pertandingan digelar tanpa penonton sekalipun.
Tekanan terhadap UEFA sebenarnya sudah menguat sebelum laga ini. Seruan boikot, mosi dari federasi nasional, hingga penyelenggaraan laga di venue netral adalah tanda bahwa sepak bola Eropa semakin sering bersinggungan dengan isu politik dan kemanusiaan. Keputusan apa pun yang diambil UEFA nantinya akan dibaca sebagai preseden: apakah otoritas sepak bola akan menyerahkan persoalan semacam ini murni ke komite disiplin, atau mulai mempertimbangkan faktor nonteknis dalam penyusunan undian.
Bagi Irlandia, dampaknya lebih langsung. Sebuah siklus kompetisi seharusnya menjadi ajang pembinaan tim, tetapi dua pekan terakhir menghabiskan energi untuk hal-hal di luar taktik dan persiapan. Sementara itu, pernyataan Federasi Israel soal Euro 2028 memperlihatkan bahwa potensi pertemuan lanjutan tetap terbuka, terutama karena Irlandia menjadi salah satu tuan rumah turnamen tersebut.
Penutup
Dua laga Irlandia vs Israel di Nations League berakhir dengan catatan yang jauh dari kata biasa: satu kemenangan 3-0, satu hasil imbang 1-1, pertandingan tanpa penonton di venue netral, ban lengan hitam, penolakan jabat tangan, tuduhan meludah, dan desakan publik seorang pelatih kepada UEFA. Hallgrímsson menegaskan bahwa timnya tidak ingin mengulang pengalaman itu, sekaligus menyerahkan keputusan penuh kepada otoritas sepak bola Eropa.
Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan tentang langkah berikutnya: bagaimana komite disiplin menangani insiden di terowongan, dan apakah UEFA akan mengubah cara undiannya ketika dua tim berada dalam situasi yang jauh melampaui urusan lapangan. Apa pun hasilnya, pertemuan di Backa Topola akan dikenang bukan karena gol-golnya, melainkan karena ketegangan yang menyertainya.
