FIFA menuduh UEFA melancarkan “kampanye misinformasi” sekaligus berupaya memengaruhi persaingan kursi presiden federasi sepak bola dunia tersebut. Tuduhan itu muncul dalam berkas yang meminta pengadilan Amerika Serikat menolak permohonan penggalian bukti (discovery) yang diajukan UEFA. Permohonan tersebut berkaitan dengan sebuah proposal investasi kontroversial yang kini menjadi pangkal perselisihan kedua lembaga.
Ketegangan ini menandai babak baru hubungan antara FIFA dan UEFA, dua otoritas terbesar dalam sepak bola dunia yang selama ini bekerja berdampingan meski kerap berselisih soal tata kelola. UEFA menggugat lewat jalur hukum AS untuk menghimpun bukti yang akan dipakai dalam rencana pengaduan pidana di Swiss terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino. Perkara ini menyeret nama Infantino, rencana bisnis bernama FIFA Forward Enterprise (FFE), serta sejumlah entitas FIFA yang berbasis di Florida, dan berlangsung di tengah tahapan menuju pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.
FIFA Tuduh UEFA Beritikad Buruk di Pengadilan AS
Dalam tanggapannya atas permohonan UEFA, FIFA menilai berkas pihak Eropa itu memuat “banyak pernyataan yang keliru atau menyesatkan tentang FIFA dan Infantino”. Pengacara FIFA menyatakan bahwa langkah hukum UEFA dibuat dengan itikad buruk dan bertujuan untuk melecehkan. Argumen itu tertuang dalam dokumen yang diajukan FIFA untuk menolak permintaan penggalian bukti.
FIFA secara khusus membantah dugaan bahwa Infantino berupaya mengambil keuntungan pribadi dari rencana tersebut. Melalui berkas yang disampaikan ke pengadilan distrik selatan Florida, FIFA menegaskan bahwa tuduhan itu sama sekali tidak berdasar. Menurut FIFA, rencana FFE harus lebih dulu mendapat persetujuan dari asosiasi anggota dan dewan FIFA, dan entitas tersebut akan diawasi oleh kedua pihak di dalam FIFA. Karena itu, FIFA menilai saran UEFA bahwa Infantino melanggar hukum atau prinsip etika apa pun sebagai klaim yang tidak berdasar.
Pihak UEFA sendiri memilih bungkam dan menolak berkomentar atas isi tanggapan FIFA tersebut. Sikap diam ini membuat bola panas perselisihan sepenuhnya berada di ranah hukum, tepat ketika kedua lembaga saling berhadapan di meja pengadilan.
Kronologi Proposal FFE yang Dibatalkan
Perselisihan ini berakar pada rencana pemindahan hak komersial Piala Dunia ke sebuah anak perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise. UEFA menduga Infantino menyusun proposal itu secara diam-diam bersama segelintir penasihat dan investor. Menurut UEFA, langkah tersebut melewati proses tata kelola normal FIFA karena tidak melibatkan konsultasi dengan dewan FIFA, konfederasi regional, maupun asosiasi anggota.
UEFA kemudian meminta otoritas pengadilan AS mengizinkan penggalian bukti dari dua entitas FIFA yang berbasis di Florida, yakni FIFA (Americas) Inc dan FWC2026 US Inc. Langkah itu diambil sebagai persiapan sebelum mengajukan pengaduan pidana di Swiss terhadap Infantino. Bukti yang dikumpulkan dinilai penting untuk menopang dalil bahwa proses tersebut menyimpang dari prosedur yang seharusnya.
Proyek FFE akhirnya ditinggalkan pada Juli lalu setelah mendapat penolakan dari sejumlah konfederasi, termasuk UEFA, Concacaf yang menaungi wilayah Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Alasan utama penolakan adalah minimnya konsultasi dalam penyusunannya. Perselisihan ini pun memicu desakan agar tata kelola FIFA dirombak.
Perdebatan Valuasi: Equity Value versus Enterprise Value
Salah satu titik sengketa yang paling tajam adalah soal angka valuasi. UEFA menyebut para investor bersedia membayar US$4,2 miliar atau setara £3,2 miliar untuk memperoleh saham di FFE, dengan nilai bisnis diperkirakan sekitar US$20 miliar. UEFA menilai angka itu jauh di bawah nilai sebenarnya dari hak komersial FIFA, dan menyoroti bahwa valuasi tersebut tidak melalui lelang terbuka maupun pengujian oleh penilai independen.
FIFA membalas bahwa UEFA mengacaukan konsep nilai ekuitas dengan nilai perusahaan. Menurut FIFA, tidak terbantahkan bahwa “valuasi ekuitas awal” FFE, yakni nilai yang tersisa bagi pemegang saham setelah utang dilunasi, adalah US$20 miliar. FIFA menegaskan bahwa UEFA, baik karena sengaja maupun karena ketidaktahuan, mencampuradukkan dua hal yang berbeda itu.
FIFA kemudian merujuk pada materi yang dibagikan kepada asosiasi anggotanya untuk menunjukkan angka yang jauh lebih besar. Materi itu menyebut total “nilai perusahaan” FFE, yang berarti nilai keseluruhan bisnis, mencapai lebih dari US$30 miliar. FIFA menyimpulkan bahwa nilai perusahaan FFE lebih dari dua kali lipat nilai ekuitasnya, sehingga berada jauh di atas angka yang menurut UEFA dianggap wajar.
Implikasi Jelang Pemilihan Presiden FIFA
Pertarungan hukum ini berlangsung hanya beberapa waktu sebelum pemilihan presiden FIFA, dan posisi Infantino tengah diuji. Pekan lalu, Infantino mengirim surat kepada seluruh 211 asosiasi anggota yang isinya mengusulkan tinjauan independen atas proses pengambilan keputusan di tubuh FIFA. Langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya merespons kritik sekaligus memperkuat posisinya menjelang pemilihan pada Maret nanti.
FIFA secara terbuka menuduh bahwa berkas hukum UEFA disusun untuk memengaruhi hasil pemilihan tersebut. Menurut FIFA, UEFA mengajukan permohonan berdasarkan Pasal 1782 dan tiga permohonan lain tepat sebelum pemilihan, dengan menyebarkan informasi yang menyesatkan tentang Infantino. FIFA meminta pengadilan menolak segala upaya memengaruhi pemilihan presiden organisasinya dengan dasar semacam itu.
Bagi UEFA, langkah hukum ini menjadi salah satu cara menekan FIFA agar lebih transparan dalam mengambil keputusan besar. Sebaliknya, bagi kubu Infantino, tuntutan itu dipandang sebagai manuver politik yang mengaburkan substansi rencana bisnis yang sebenarnya. Pertarungan di pengadilan AS dengan demikian menjadi bagian tak terpisahkan dari kontestasi kekuasaan di sepak bola dunia.
Desakan Perubahan Tata Kelola FIFA
Kasus FFE memperlihatkan bahwa perdebatan tentang tata kelola FIFA jauh lebih luas daripada sekadar satu proposal bisnis. Ketika rencana pemindahan hak komersial Piala Dunia itu batal, sejumlah konfederasi menuntut perubahan cara FIFA mengambil keputusan, termasuk kewajiban berkonsultasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Isu ini menyentuh soal keterbukaan, akuntabilitas, dan pembagian suara di antara anggota.
Dinamika ini tidak berdiri sendiri, karena FIFA sebelumnya juga pernah mendapat sorotan serupa terkait pengelolaan keuangan dan pemasaran turnamen besar. Perbedaan pendapat antara FIFA dan UEFA mencerminkan ketegangan yang lebih mendasar tentang siapa yang paling berhak menentukan arah komersialisasi sepak bola global. Perselisihan ini pun menyisakan pertanyaan tentang bagaimana kedua lembaga akan bekerja sama di masa depan.
Secara keseluruhan, tuduhan FIFA terhadap UEFA soal kampanye misinformasi menunjukkan bahwa konflik ini telah bergeser dari sekadar perdebatan bisnis menjadi pertempuran hukum dan politik. Inti perselisihannya menyentuh dua hal: rencana kontroversial FFE yang sudah dibatalkan, serta upaya UEFA mengumpulkan bukti untuk pengaduan pidana terhadap Infantino. Sementara itu, perdebatan valuasi ekuitas versus nilai perusahaan memperlihatkan betapa jauhnya kedua kubu dalam memandang rencana tersebut.
Dengan pemilihan presiden FIFA yang tinggal menunggu waktu, kedua pihak tampaknya belum akan menurunkan tensi. Apa pun putusan pengadilan AS nanti, perselisihan ini akan tetap menjadi penanda penting dalam hubungan FIFA dan UEFA, sekaligus ujian atas janji perbaikan tata kelola yang selama ini digaungkan.
