Federico Higuaín dipecat dari posisinya sebagai pelatih tim cadangan Columbus Crew setelah diduga menggenggam tangan seorang wasit perempuan sambil melontarkan kalimat, “Jangan lupa, ini permainan pria.” Insiden itu terjadi dalam sebuah laga MLS Next Pro, membuatnya diusir dari lapangan, dan berujung pada hukuman larangan mendampingi dua pertandingan. Pemecatan kemudian diumumkan klub setelah rangkaian pembicaraan internal selama sepekan terakhir.
Kasus ini menyita perhatian karena menyentuh dua hal sekaligus: batas perilaku seorang pelatih terhadap perangkat pertandingan, dan perlakuan terhadap wasit perempuan di sepak bola profesional Amerika Serikat. Manajemen Columbus Crew menegaskan standar kepemimpinan di klub tidak terpenuhi, sementara asosiasi wasit menilai sanksi awal yang dijatuhkan jauh dari memadai. Columbus Crew juga tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait pelatih berusia 41 tahun itu.
Kronologi Insiden yang Membuat Higuaín Dipecat
Peristiwa itu terjadi pada 23 Agustus dalam sebuah pertandingan MLS Next Pro, kompetisi pengembangan yang berada di bawah naungan Major League Soccer. Menurut keterangan Professional Soccer Referees Association (PSRA), wasit perempuan tersebut telah meminta Higuaín untuk berhenti sebanyak tiga kali. Meski begitu, ia diduga tetap menggenggam tangan wasit itu dan menolak melepaskannya. Wasit kemudian mengusirnya dari pertandingan, dan setelahnya ia dijatuhi larangan mendampingi dua laga.
PSRA tidak memandang kejadian itu sebagai gestur emosional biasa. Organisasi tersebut menyebut tindakan Higuaín sebagai “genggaman kuat” yang seharusnya berbuah hukuman larangan tiga pertandingan, bukan dua. Artinya, sejak awal persoalan ini bukan hanya soal kartu merah, melainkan soal seberapa serius liga menilai sentuhan fisik terhadap perangkat pertandingan.
Dari sisi klub, insiden 23 Agustus itu ternyata tidak dinilai sebagai kejadian tunggal. Manajemen Columbus Crew mengaku turut mengevaluasi perilaku Higuaín sepanjang bulan terakhir sebelum akhirnya mengambil keputusan pemecatan. Kombinasi antara laporan insiden dan penilaian menyeluruh itulah yang membuat posisinya tidak lagi dipertahankan.
Siapa Federico Higuaín dan Jejaknya di Columbus Crew
Higuaín berusia 41 tahun dan sepanjang karier profesionalnya dikenal sebagai penyerang. Sebelum menetap di Amerika Serikat, ia bermain di Argentina, Turki, dan Meksiko. Ia kemudian bergabung dengan Columbus Crew dan mencatat lebih dari 200 penampilan bersama klub tersebut.
Namanya juga lekat dengan sang kakak, Gonzalo Higuaín, mantan penyerang Real Madrid. Setelah karier bermainnya berakhir, Federico menangani tim cadangan Columbus Crew. Posisi itulah yang kini dicabut menyusul dugaan pelecehan terhadap wasit perempuan.
Alasan Columbus Crew Memecat Higuaín
Manajer umum Columbus Crew, Issa Tall, menyampaikan alasan pemecatan melalui pernyataan resmi. Ia menyebut keputusan itu diambil demi kepentingan terbaik klub, para pemain, dan staf pendukung. Pernyataan tersebut secara implisit menegaskan bahwa persoalannya bukan hanya insiden di lapangan, tetapi juga kepatutan seseorang untuk memimpin sebuah tim.
“Kami menilai keputusan memberhentikan Federico Higuaín dari tanggung jawabnya adalah yang terbaik bagi klub, para pemain, dan staf pendukung,” ujar Tall. “Setelah pembicaraan pekan ini dan penilaian lebih jauh atas sebulan terakhir, standar yang kami harapkan dari seorang pemimpin untuk salah satu tim kami tidak terpenuhi.”
Dua frasa kunci dalam pernyataan itu adalah “kepentingan terbaik klub” dan “standar seorang pemimpin”. Keduanya menunjukkan bahwa Columbus Crew memosisikan kasus ini sebagai persoalan budaya organisasi, bukan semata pelanggaran teknis di lapangan. Klub tidak merinci bentuk sanksi internal lain atau langkah lanjutan setelah pemecatan tersebut.
Kritik PSRA dan Perdebatan soal Besaran Sanksi
PSRA menilai respons MLS terlalu ringan dibandingkan bobot perbuatan yang dilaporkan. Organisasi itu menyatakan sebuah “genggaman kuat” semestinya diganjar larangan tiga pertandingan, dan menyebut keputusan liga “jauh dari cukup”. Kritik ini muncul karena mereka menilai ada dua tindakan yang disengaja: menggenggam tangan wasit dan menolak melepaskannya setelah diminta berhenti tiga kali.
Menurut PSRA, intimidasi fisik itu diperberat oleh ucapan yang merendahkan wasit perempuan tersebut. Dalam pernyataannya, mereka mengutip kalimat “Jangan lupa, ini permainan pria” sebagai bentuk komentar seksis yang menyertai insiden tersebut. PSRA menegaskan bahwa perempuan membuat setiap level permainan ini menjadi lebih baik, dan mereka tidak seharusnya harus menanggung intimidasi atau ucapan yang merendahkan untuk membuktikan hal itu.
Organisasi itu juga menyinggung kualitas wasit perempuan yang telah terbukti di panggung dunia. Mereka menuntut rasa hormat, martabat, dan lingkungan kerja yang aman, sama seperti yang seharusnya diterima setiap perangkat pertandingan lain. Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik tidak langsung terhadap mekanisme disiplin liga yang dianggap belum mencerminkan standar tersebut.
Dampak bagi Perwasitan Perempuan dan Liga
Kasus ini menempatkan MLS dalam posisi yang tidak nyaman, karena sanksi awal yang dikeluarkan liga dinilai publik wasit tidak sebanding dengan perbuatannya. Setelah klub mengambil langkah sendiri dengan memecat Higuaín, pertanyaan yang tersisa adalah bagaimana liga akan menyesuaikan kebijakan disiplinnya ke depan. Tekanan dari asosiasi wasit menunjukkan bahwa keputusan serupa berpotensi terus dipersoalkan.
Bagi wasit perempuan, insiden ini menggambarkan persoalan yang lebih luas daripada satu pertandingan. Ketika seorang pelatih dinilai dapat melakukan kontak fisik dan melontarkan komentar seksis, rasa aman bekerja menjadi taruhannya. PSRA menegaskan bahwa perlakuan setara bukan permintaan istimewa, melainkan syarat dasar agar wasit dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Dari sisi Columbus Crew, pemecatan ini menjadi sinyal bahwa klub tidak ingin dinilai toleran terhadap perilaku semacam itu. Namun, karena keputusan datang setelah liga lebih dulu menjatuhkan sanksi ringan, publik masih akan menilai konsistensi antara pernyataan standar klub dan praktiknya di lapangan. Bagaimana kedua pihak melanjutkan penanganan kasus ini akan menentukan arah pembicaraan berikutnya.
Kesimpulan
Kisah Federico Higuaín dipecat oleh Columbus Crew berpangkal pada satu insiden pada 23 Agustus, ketika ia diduga menggenggam tangan seorang wasit perempuan dan menolak melepaskannya setelah diminta berhenti tiga kali. Ucapan “ini permainan pria” yang dilaporkan menyertai kejadian itu membuat persoalannya naik dari pelanggaran disiplin menjadi isu seksisme dan keselamatan kerja. PSRA menilai hukuman awal liga terlalu ringan, sementara klub memilih mengakhiri kerja sama dengan alasan standar kepemimpinan.
Yang tersisa dari kasus ini adalah catatan bahwa perlindungan terhadap perangkat pertandingan perempuan masih bergantung pada seberapa tegas lembaga dan klub menindaklanjuti pelanggaran. Selama besaran sanksi masih diperdebatkan, insiden seperti ini berpotensi terulang dan menuntut perhatian yang sama seriusnya di lintas level kompetisi.
