Rennes vs PSG: Bukti Tim Terbaik di Bawah Raksasa Ligue 1

Laga Rennes vs PSG di Roazhon Park berakhir imbang 2-2, dan hasil itu menjadi bukti nyata bahwa Rennes layak disebut sebagai tim terbaik di luar raksasa Ligue 1. PSG, juara bertahan Eropa, harus menurunkan hampir €150 juta aset serangan dari bangku cadangan—termasuk pemain yang mencetak gol kemenangan di final Piala Dunia bulan lalu—hanya untuk menyelamatkan satu poin. Artileri mewah itu baru dikerahkan setelah PSG nyaris tenggelam di babak pertama.

Pertandingan ini sejatinya dijadwalkan berlangsung di Parc des Princes, tetapi mendadak dipindah ke Roazhon Park karena kondisi lapangan PSG yang buruk. Perpindahan itu jelas menguntungkan Rennes, yang tampil percaya diri di hadapan pendukungnya sendiri. Alih-alih menjadi korban keganasan PSG, Rennes justru tampil sebagai pihak yang membuat juara bertahan Eropa itu ketar-ketir.

Rennes vs PSG: Babak Pertama yang Menyakitkan bagi Juara Bertahan

Sejak peluit awal, Rennes menerapkan intensitas tinggi dengan pressing tanpa henti dan transisi menyerang yang sangat cair. Lini tengah serta pertahanan PSG berada di bawah tekanan luar biasa selama 45 menit pertama. Gol pembuka datang dari Sébastien Szymanski, yang melepaskan tembakan slice dari luar kotak penalti dan bola masuk setelah memantul di tiang bagian dalam.

PSG sebenarnya mendominasi penguasaan bola, tetapi kesulitan menciptakan peluang emas. Dua mantan pemain Rennes, Désiré Doué dan Ousmane Dembélé, mendapat peluang terbaik, tetapi Dembélé tampil sangat boros—salah satunya ketika sepakan pertamanya melambung tinggi dari dalam kotak penalti. Alih-alih menyamakan kedudukan, PSG justru kembali kebobolan.

Esteban Lepaul, top scorer Ligue 1 musim lalu, langsung menunjukkan ketajamannya di laga ini. Ia menggandakan keunggulan Rennes dengan tembakan first-time ke arah tiang dekat yang menaklukkan Matvey Safonov. Skor 2-0 bertahan hingga turun minum, dan PSG wajib berbenah cepat jika tidak ingin pulang dengan tangan hampa.

Babak Kedua: Reaksi Keras Luis Enrique

Luis Enrique tidak membuang waktu untuk bereaksi di babak kedua. Dua pemain paling bertalenta di Ligue 1, Dembélé dan Khvicha Kvaratskhelia, langsung ditarik keluar dan digantikan oleh Ferran Torres serta Mika Godts, yang total didatangkan dengan biaya hampir €100 juta. Keputusan berani itu terbukti efektif karena Torres menjadi aktor utama kebangkitan PSG.

Dua gol Torres tercipta berkat assist Fabián Ruiz, yang masuk bersama Maghnes Akliouche, rekrutan €50 juta yang menjalani debut Ligue 1 bersama juara bertahan. Gol pertama Torres lahir setelah ia melakukan lari cerdas di belakang pertahanan Rennes, sementara gol kedua diselesaikannya dengan sundulan jarak dekat. Di menit-menit akhir, Willian Pacho melakukan penyelamatan krusial dengan menghalau bola di garis gawang untuk memastikan laga berakhir 2-2.

“Kalau Anda terus memikirkan apa yang sudah Anda menangkan, Anda tidak akan pernah memenangkan apa pun lagi,” ujar Luis Enrique ketika ditanya soal keputusannya menarik Dembélé dan Kvaratskhelia. “Anda harus menunjukkan setiap hari bahwa Anda siap.” Pelatih asal Spanyol itu juga mengakui ada perbedaan ritme yang besar antara Rennes dan PSG pada laga ini.

Mengapa PSG Tampil Lamban di Laga Ini?

Kelesuan PSG sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Musim lalu, setelah waktu persiapan yang terbatas, mereka nyaris tergelincir di awal kompetisi dan hanya selamat karena lawan-lawannya adalah Nantes dan Angers. Pola yang sama terulang lagi musim ini, dan Luis Enrique pun menegaskan bahwa timnya harus lebih siap.

“Kami harus lebih siap,” kata Luis Enrique. Masalah PSG tidak berhenti di ritme permainan, karena kondisi lapangan Parc des Princes yang buruk memaksa laga ini dipindahkan ke Roazhon Park. Pihak Rennes bahkan berargumen bahwa pertandingan kedua nanti juga seharusnya digelar di kandang mereka, sehingga PR PSG bukan hanya soal taktik, tetapi juga infrastruktur.

Rennes, Pesaing Terkuat di Bawah PSG

Rennes memulai musim ini dengan predikat sebagai tim terbaik kedua di atas kertas, dan setelah laga melawan PSG, persepsi itu kini sejalan dengan kenyataan di lapangan. Optimisme besar pun tumbuh di Roazhon Park, didukung oleh kekayaan pemilik klub, keluarga Pinault, yang membuat Rennes kebal terhadap krisis finansial yang kini melanda Marseille dan Monaco. Sementara itu, pesaing-pesaing lain seperti Lille, Lyon, Strasbourg, dan Lens cenderung stagnan, setidaknya untuk saat ini.

Rennes juga bergerak agresif di bursa transfer dengan merekrut bek timnas Inggris U-21, Charlie Cresswell, dari Toulouse setelah memenangkan persaingan dengan klub-klub Premier League. Cresswell, salah satu bek terbaik Ligue 1 musim lalu, tampil impresif saat melawan PSG. Selain itu, Rennes mendapatkan Adrien Thomasson secara gratis dari Lens—pemain yang dianggap sebagai gelandang terbaik di divisi ini musim lalu.

Di lini depan, Lepaul menjadi striker produktif yang sangat berpeluang masuk skuad perdana timnas Prancis asuhan Zinedine Zidane bulan depan. Ditambah kepulangan Franck Haise pada Februari lalu setelah kariernya di Nice berakhir buruk, Rennes kini memiliki tulang punggung yang kuat dan pelatih brilian. Haise memulai karier kepelatihannya sebagai pelatih muda di Rennes, sehingga ia memahami betul budaya klub ini.

“Ada lebih banyak sisi positif daripada negatif,” kata Haise seusai laga imbang 2-2 tersebut. Sisi negatifnya, dua poin hilang akibat kelengahan yang muncul di menit-menit akhir, terutama dari Abdelhamid Aït-Boudlal yang meski begitu tetap menjadi prospek menarik. Sisi positifnya, Rennes tidak terlihat seperti tim nomor dua pada malam itu, dan jika mampu konsisten, mereka bisa benar-benar menjadi yang terbaik di bawah PSG pada akhir musim.

Sorotan Pekan Ini di Ligue 1

Strasbourg Kian Terpuruk

Strasbourg patut khawatir setelah dibantai Marseille 4-0 pada pekan ini. Mereka harus mengganti Gary O’Neil yang hengkang ke Ipswich pada musim panas, tetapi performa Hugo Oliveira belum meyakinkan. Kiper Filip Jörgensen yang dipinjam dari Chelsea bahkan kebobolan empat kali, sementara timnya harus bermain dengan sepuluh orang setelah Samir El Mourabet diganjar kartu merah pada menit ke-60 karena menendang Pierre-Emile Højbjerg.

Kebobolan 21 gol dalam tujuh laga uji coba bisa dianggap sekadar “pramusim”, tetapi ketika tren buruk itu terbawa ke kompetisi resmi, klub dengan ambisi Eropa ini jelas punya masalah. Kekalahan telak dari Marseille mempertegas bahwa Strasbourg belum siap bersaing di papan atas. Pertandingan-pertandingan berikutnya akan menjadi ujian nyata bagi Oliveira untuk membuktikan diri.

Lens Bangkit di Laga Perdana

Meski kehilangan Pierre Sage dan sejumlah pemain inti, Lens sama sekali tidak terlihat lebih lemah saat menggulung Auxerre 5-2. Will Still, mantan manajer Lens yang kembali ke Ligue 1 setelah gagal di Southampton, harus menyaksikan timnya kalah telak. Kemenangan ini sekaligus menghapus kekhawatiran bahwa performa Lens musim lalu hanya kebetulan belaka.

Florian Thauvin, yang kini mengenakan ban kapten, menjadi bintang dengan mencetak dua gol dan satu assist. Dino Toppmöller pun memulai masa baktinya sebagai manajer Lens dengan gemilang. Tantangan baru akan datang pada September ketika kompetisi Eropa dimulai, tetapi kemenangan telak ini memberi modal kepercayaan diri yang besar.

Penghormatan untuk Éric Roy

Sejumlah pertandingan di Marseille, Le Mans, dan Nice diawali dengan penghormatan untuk Éric Roy. Mantan manajer Brest itu meninggal dunia pada Juni lalu karena kanker pankreas, setelah membawa klub berlaga di kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka pada musim 2024-25. Julien Lachuer, penunjukan internal Brest pada musim panas ini, menyampaikan bahwa pikiran seluruh tim tertuju pada Roy.

“Pikiran kami tertuju padanya,” ujar Lachuer. Era baru Brest pun dimulai dengan hasil imbang melawan Le Mans pada Sabtu. Meski kehilangan sosok penting, Brest mencoba bangkit dan melanjutkan semangat yang telah ditanamkan Roy selama ini.

Kesimpulan

Hasil imbang Rennes vs PSG ini menegaskan bahwa jarak antara PSG dan para pengejarnya di Ligue 1 mungkin tidak selebar yang selama ini dibayangkan. PSG memang tetap superior dari segi materi pemain, tetapi Rennes membuktikan bahwa mereka mampu membuat tim sekelas juara Eropa tampil kerepotan. Predikat sebagai tim terbaik kedua di Ligue 1 kini bukan lagi sekadar jargon, melainkan target realistis yang bisa diperjuangkan.

Bagi Rennes, konsistensi adalah kunci untuk mengubah momen istimewa ini menjadi pencapaian jangka panjang. Jika permainan seperti saat melawan PSG bisa diulang di setiap pekan, bukan tidak mungkin mereka finis tepat di bawah raksasa Paris itu. PSG boleh mengerahkan seluruh ototnya pada laga ini, tetapi semua itu terjadi hanya karena Rennes memaksa mereka melakukannya.